Surat Untuk Emak
Kereta itu berhenti dengan jeritan besi yang panjang. Aku berdiri kaku di peron, menggenggam tas usang.
Di saku bajuku, ada surat yang belum pernah kukirim: “Emak, anakmu rindu…”
Di kota ini, aku hanya seorang buruh. Siang mengangkat semen, malam menjaga warung. Upah sering telat, makan sering ditunda.
Namun yang paling berat bukan lapar, melainkan sepi.
Allah berfirman: “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23)
Aku ingin berbakti, tapi jarak membuatku lemah.
Suatu malam, pesan masuk dari kampung: “Makmu sakit. Sudah lama tidak bangun.”
Tanganku gemetar. Uang di dompet tak cukup untuk pulang. Aku terduduk, menangis.
Rasulullah SAW bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Aku takut ridha itu menjauh dariku. Aku bekerja tanpa mengenal lelah.
Aku ingat kisah nyata seorang kuli di Jakarta yang selama 12 tahun mengirim uang untuk ibunya di desa, hingga akhirnya mampu membawa ibunya berhaji.
Ia berkata, “Saya tidak punya harta, tapi saya punya doa ibu.”
Dua bulan kemudian, aku pulang. Emak menyambutku dengan tubuh lemah tapi senyum utuh.
“Kau pulang, Nak…” Aku bersimpuh.
“Maafkan aku, Mak…” Emak menangis, memeluk kepalaku.
Aku teringat sabda Nabi SAW: “Surga itu di bawah telapak kaki ibu.” (HR. Ahmad)
Dan malam itu aku sadar, aku tidak miskin, aku hanya terlalu lama jauh dari surga.
Aku tidak pulang membawa emas, tetapi pulang membawa doa yang dikabulkan.
Bahagia itu sederhana: bisa mencium tangan ibu sebelum terlambat.



