Jerigen “Sultan”, dan Jeritan Warga di SPBU Batang Toman
Matahari Jumat siang, 14 Agustus 2026, terasa begitu menyengat di kawasan Simpang Empat, Pasaman Barat. Namun, panas yang paling terasa bukan hanya berasal dari teriknya matahari.
Di sepanjang Jalan Raya Simpang Empat–Manggopoh, ratusan pengendara harus berhadapan dengan antrean panjang BBM di SPBU Batang Toman yang tak kunjung terurai.
Antrean kendaraan bahkan membentang hampir satu kilometer. Deretan mobil dan sepeda motor memenuhi badan jalan, menghambat aktivitas warga, menutup akses sejumlah toko, dan membuat arus lalu lintas di sekitar SPBU tersendat.
Bagi para pengendara, antrean BBM di SPBU Batang Toman bukan lagi sekadar persoalan menunggu. Ini telah menjadi rutinitas melelahkan yang menguras waktu, tenaga, bahkan biaya.
Di antara deretan sepeda motor yang mesinnya telah lama dimatikan, Ical, warga Simpang Tiga, duduk menunggu dengan wajah penuh kelelahan. Keringat membasahi dahinya setelah hampir dua jam berada dalam antrean.
Di dekatnya, Pak Darman juga tampak gelisah. Anak yang masih mengenakan seragam sekolah duduk di jok belakang sepeda motornya.
“Sudah tiga bulan begini, Pak,” ujar Ical dengan suara parau. “Berjam-jam menunggu hanya untuk mendapatkan sepuluh liter. Rasanya seperti meminta sedekah di rumah sendiri.”
Pak Darman mengangguk pelan.
“Anak saya tadi pagi hampir terlambat masuk kelas. Kalau kondisi seperti ini terus, mau tidak mau kami harus beli di Pertamini. Harganya bisa Rp15.000 per liter. Gaji kami bisa habis hanya untuk bensin.”
Jerigen Besar di Tengah Antrean Panjang
Di tengah keluhan warga, perhatian tiba-tiba tertuju ke bagian dalam SPBU Batang Toman.
Beberapa jerigen plastik berukuran besar berwarna kuning terlihat sedang diisi oleh petugas. Bukan hanya satu atau dua jerigen. Sejumlah jerigen tampak menunggu giliran untuk mendapatkan BBM.
Pemandangan itu sontak memancing pertanyaan dari warga yang sudah berjam-jam mengantre.
Ical menunjuk ke arah jerigen tersebut.
“Lihat itu, Pak. Kami di sini antre berjam-jam, sementara di sana ada jerigen yang diisi dalam jumlah banyak. Wajar kalau masyarakat bertanya-tanya,” katanya.
Istilah “jerigen Sultan” pun muncul dari tengah percakapan warga untuk menggambarkan jerigen-jerigen yang menurut mereka mendapatkan perlakuan berbeda di tengah kelangkaan BBM.
Namun, tudingan warga tersebut belum tentu menggambarkan keseluruhan prosedur distribusi BBM. Karena itu, kejelasan dokumen, dasar pengisian, dan mekanisme penyaluran menjadi hal penting yang perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.
Petugas SPBU: Pengisian Jerigen Disebut Memiliki Dokumen
Keluhan warga akhirnya sampai kepada Icha, salah seorang petugas SPBU Batang Toman. Di tengah situasi yang semakin ramai, ia berusaha memberikan penjelasan sembari tetap melayani kendaraan yang mengantre.
“Bapak-bapak, sabar. Pengisian jerigen itu ada surat izinnya,” kata Icha.
Menurut penjelasannya, pengisian tersebut telah dilengkapi dokumen pendukung dan mendapat tanda tangan dari Kepala SPBU Batang Toman. Petugas, kata dia, hanya menjalankan prosedur yang telah ditetapkan.
Penjelasan itu belum sepenuhnya meredakan keresahan warga.
“Prosedur untuk siapa? Untuk kami yang sudah antre sejak subuh, atau untuk mereka yang punya surat?” tanya seorang ibu dari balik helmnya.
Pertanyaan tersebut menggambarkan persoalan yang lebih besar: ketika stok BBM terbatas dan antrean masyarakat semakin panjang, transparansi dalam penyaluran menjadi sangat penting agar tidak menimbulkan kecurigaan maupun kecemburuan sosial.
Kelangkaan BBM Membuat Warga Terjepit
Situasi semakin sulit karena sejumlah SPBU di sekitar Simpang Empat juga disebut mengalami kekosongan stok.
Ical mengaku mendapat informasi bahwa SPBU Sariak telah kehabisan BBM sejak sekitar pukul 11.00 WIB. SPBU Batang Lingkin juga disebut mengalami kondisi serupa.
Akibatnya, warga hanya memiliki sedikit pilihan: bertahan dalam antrean panjang atau membeli BBM melalui pengecer dengan harga yang jauh lebih mahal.
Bagi masyarakat yang penghasilannya pas-pasan, selisih harga tersebut bukan persoalan kecil.
Setiap liter tambahan berarti pengeluaran yang harus dipotong dari kebutuhan rumah tangga lainnya.
Pak Darman kembali menepuk bahu Ical.
“Yang bisa kita lakukan sekarang cuma berdoa. Semoga besok pasokan datang lebih banyak. Dan semoga para pengambil keputusan melihat kondisi masyarakat yang membutuhkan BBM dengan harga dan distribusi yang adil.”
Antrean BBM SPBU Batang Toman dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Menjelang sore, matahari mulai condong ke arah barat. Namun, antrean kendaraan di SPBU Batang Toman belum juga bergerak secara signifikan.
Kendaraan masih mengular di sepanjang jalan. Klakson bersahutan. Debu beterbangan. Pengendara menunggu dengan wajah lelah, sementara aktivitas masyarakat di sekitar jalan ikut terdampak.
Kisah antrean BBM di SPBU Batang Toman pada 14 Agustus 2026 akhirnya menyisakan sejumlah pertanyaan penting.
Bagaimana kondisi stok BBM sebenarnya? Bagaimana mekanisme penyaluran BBM menggunakan jerigen? Apakah seluruh dokumen pengisian telah sesuai ketentuan? Dan yang tak kalah penting, bagaimana memastikan masyarakat yang telah mengantre berjam-jam tetap mendapatkan haknya secara adil?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang transparan dari pihak terkait.
Sebab, persoalan BBM bukan hanya tentang kendaraan yang harus tetap berjalan. Di balik setiap antrean panjang terdapat pekerja yang takut terlambat, orang tua yang harus mengantar anak ke sekolah, pedagang yang membutuhkan kendaraan untuk mencari nafkah, dan keluarga yang harus menghitung ulang pengeluaran rumah tangga.
Ketika kebutuhan dasar masyarakat sulit diperoleh, yang dipertaruhkan bukan sekadar waktu dan uang, tetapi juga kepercayaan publik.
Dan di bawah terik matahari Simpang Empat, antrean panjang SPBU Batang Toman menjadi gambaran nyata betapa pentingnya distribusi energi yang transparan, tertib, dan berkeadilan.
Catatan: Kisah di atas merupakan ilustrasi naratif berdasarkan kondisi dan keluhan warga yang dihimpun di SPBU Batang Toman, Pasaman Barat, pada 14 Agustus 2026.
Pernyataan mengenai pengisian BBM menggunakan jerigen, dokumen perizinan, serta kondisi stok merupakan bagian dari keterangan dan keluhan yang perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak SPBU dan instansi berwenang.
Setiap dugaan pelanggaran atau penimbunan BBM sebaiknya tidak disimpulkan sebelum terdapat verifikasi dan keterangan resmi.




