
Redaksisatu – Setiap musim kampanye legislatif tiba, isu tentang penanggulangan banjir selalu menjadi “kursi panas” di Panggung-panggung politik.
Seruan kampanye janji membangun tanggul, menormalisasi sungai, merapikan drainase, dan menangani titik rawan bencana banjir, Semua disampaikan dengan lantang, penuh retorika.
Seolah dengan satu kalimat saja sudah cukup mewakili harapan ribuan warga yang bertahun-tahun hidup berdampingan dengan ancaman air bah.
Namun kenyataan selalu menjadi penguji paling jujur. Belum hilang duka atas banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 — ratusan korban jiwa, desa-desa terendam, ribuan keluarga mengungsi — suara kampanye itu tiba tiba mendadak padam.
sering dipandang sebagai bagian dari kehendak Tuhan atau takdir semesta — ini memberi penghiburan dan penerimaan di tengah penderitaan.
Tapi ketika pengetahuan tentang lingkungan, pembangunan, dan mitigasi bencana kurang — publik sering tidak disadarkan bahwa manusia bisa mencegah/sebagian meringankan risiko bencana. Maka narasi “takdir” terasa paling mudah dan terkadang paling aman secara emosional.
Saat kampanye legislatif, banyak promosi tentang penanggulangan bencana, nah ketika peristiwa itu terjadi realita kampanye yang fi gembar gemborkan belum terbukti.
Di saat rakyat menjerit, janji berubah menjadi gema kosong. Jalan rusak, jembatan hancur, aliran listrik padam, komunikasi lumpuh — masyarakat terjebak dalam situasi yang memaksa mereka berjuang sendiri. Bantuan datang lambat, sementara lumpur dan puing menutup harapan. Anak-anak menggigil di tenda darurat, para orang tua menatap rumah yang tinggal kenangan.
Banjir hari ini tak lagi bisa dituding sebagai “sekadar kondisi alam.” Kini banjir adalah saksi: saksi rusaknya lingkungan, lemahnya pengelolaan hutan, buruknya tata ruang, dan jarangnya evaluasi pembangunan. Sungai yang dipersempit, hutan yang digunduli, izin yang terlalu mudah diteken — semuanya ikut menentukan nasib rakyat kecil.
Rakyat kecil terpaksa bertahan, seperti biasa. Mereka yang dulu dijanjikan perlindungan, kini hilang dalam kesunyian pasca-pemilu. Kita boleh sabar. Kita boleh ikhlas. Tapi ikhlas bukan berarti diam. Karena jika kita tidak bersuara, suara kita yang patah itu tidak akan pernah dibenahi. Dan setiap musim hujan, cerita yang sama kembali terulang.
Bencana bukan hanya soal hujan atau alam. Bencana adalah soal tanggung jawab — yang seharusnya dijawab dengan kerja nyata, bukan hanya diucapkan ketika baliho sedang dicetak.
Disclaimer
Tulisan ini merupakan opini dan analisis berbasis informasi yang tersedia untuk umum serta pandangan penulis terhadap dinamika kebencanaan dan politik di Indonesia. Isi artikel tidak ditujukan untuk menyerang pihak tertentu secara personal, melainkan sebagai kritik konstruktif terhadap kebijakan dan praktik tata kelola publik. Pembaca diimbau untuk memverifikasi data dan mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang terkait penanganan bencana di wilayah masing-masing



