Memilih Anggota BPD, Bukan Memilih Pihak — Menjaga Desa Tetap Satu Walau Beda Pilihan

Oleh: Muhamad Sarman|LSM KPMP

BOYOLALI, Redaksisatu.id – Saat ini, musim pemilihan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) mulai tiba. Daftar calon sudah terpasang, suara pendukung mulai terdengar, hiruk-pikuk politik desa mulai terasa di setiap sudut. Wajar — ini momen penting, karena kita akan menentukan siapa yang akan duduk mewakili suara warga, mengawasi, dan menyuarakan aspirasi kita di lembaga perwakilan desa.

Namun di tengah semangat itu, kita juga mulai melihat hal-hal yang perlu kita jaga bersama. Mulai dari kader hingga calon itu sendiri, saling tebar pencitraan, saling klaim kelebihan, saling ujuk kebolehan.

Tak jarang muncul pemberian barang, bantuan, atau janji-janji manis yang kadang membuat kita bingung membedakan mana niat tulus dan mana cara meraih dukungan.

BACA JUGA  Utang Pemerintah Bulan Juni Rp9.138 Triliun Menkeu Berikan Penjelasan

Semua ini membuat suasana desa menjadi ramai. Tapi mari kita berhenti sejenak, bernapas, dan berpikir jernih: Apakah beda pilihan harus berarti kita bermusuhan? Apakah memilih anggota BPD harus memutus tali persaudaraan sesama warga desa?

Beda Pilihan, Tetap Satu Warga Desa

Ingatlah hal paling mendasar: sebelum kita mendukung calon yang berbeda, kita adalah warga satu desa. Kita minum air dari sumber yang sama, berjalan di jalan yang sama, merayakan hari raya bersama, dan saat susah pun kita saling tolong-menolong. Persaudaraan kita sudah ada jauh sebelum nama-nama calon itu muncul di daftar pemilihan.

Pemilihan anggota BPD itu memilih wakil rakyat untuk mengawal kepentingan desa, bukan memilih musuh. Calon yang kita dukung hanyalah pilihan kepercayaan — bukan alasan untuk memutus silaturahmi.

Hari ini kita berbeda pilihan, besok lusa setelah pemilihan usai, kita tetap harus bekerja sama, gotong royong, dan membangun desa kita bersama. Anggota BPD nanti bekerja untuk seluruh warga desa, bukan hanya untuk yang memilihnya.

Hati-Hati: Bantuan vs Suara Aspirasi

Di musim seperti ini, sering ada yang memberikan barang atau bantuan. Itu hal baik, memang patut diapresiasi jika tulus. Tapi mari kita cerdas: Jangan sampai bantuan itu menjadi harga bagi suara dan kepercayaan kita.

Suara warga itu amanah — ia adalah tanggung jawab untuk masa depan desa, bukan barang yang bisa ditukar dengan beras, uang, atau barang sesaat.

Jika kita memilih hanya karena pemberian saat itu, lalu bagaimana jika janjinya tidak ditepati setelah terpilih? Siapa yang akan mengawasi? Siapa yang rugi? Kita semua, warga desa sendiri.

BACA JUGA  Bojonggede Expo Kokohkan Makanan Tradisional Bertepatan HJB ke-543

Sebaiknya pilihlah berdasarkan rekam jejak, kejujuran, kemampuan berdiskusi, keberanian menyuarakan kebenaran, serta visi untuk desa — bukan seberapa banyak yang diberikan saat masa pencitraan.

Anggota BPD itu bukan sekadar hadir, melainkan harus berani mengawasi, berani mengingatkan, dan menjembatani warga dengan pemerintah desa.

Tidak Perlu Saling Menjatuhkan

Sering kita lihat: ada yang saling menjatuhkan, menyebarkan isu, membesar-besarkan hal kecil, bahkan mempersoalkan hal yang tidak mendasar. Padahal, menjatuhkan orang lain tidak membuat diri sendiri menjadi lebih baik.

Calon yang layak duduk di BPD tidak perlu merusak nama baik calon lain untuk dipercaya. Cukup tunjukkan apa yang bisa dilakukan, buktikan dengan sikap, bukan dengan kata-kata yang menjatuhkan orang lain.

Bagi kita warga: Jangan mudah terprovokasi. Setiap informasi yang beredar, saring dulu sebelum dipercaya, apalagi sebelum disebarkan.

Bisa jadi itu hanya isu yang dibuat untuk memanas-manaskan suasana, padahal yang kita butuhkan adalah ketenangan dan kebijaksanaan. Mari kita bijak — tanya, cek, verifikasi, baru percaya. Bukan sebaliknya.

Setelah Pemilihan, BPD Bekerja untuk Semua Warga

Ingatlah: hari ini beda pilihan, besok tetap satu desa. Setelah hasil ditetapkan, ada yang terpilih, ada yang tidak. Yang terpilih wajib memperjuangkan aspirasi seluruh warga — termasuk yang tidak memilihnya.

Yang tidak terpilih tetap berhak menyuarakan pendapat, mengawasi, dan mendukung kemajuan desa. Tidak boleh ada sikap “kalau bukan pilihan saya, saya tidak dukung” — itu merugikan desa kita sendiri.

Jangan sampai karena beda pilihan, tetangga tidak saling menyapa, saudara jadi menjauh, gotong royong jadi sepi. Itu kerugian yang jauh lebih besar daripada siapa pun yang terpilih menjadi anggota BPD. Keharmonisan dan persatuan desa itu lebih berharga daripada kemenangan siapa pun di pemilihan ini.

Pemilihan anggota BPD adalah ajang demokrasi warga desa, bukan ajang permusuhan. Mari kita jadikan momen ini sebagai sarana memilih wakil yang terbaik, yang bisa kita percaya untuk menyuarakan aspirasi kita — bukan alasan untuk saling benci dan terbelah.

Pilihlah dengan pikiran dan hati yang jernih, berdasarkan kepercayaan dan rekam jejak
​Tetap saling menghormati walau berbeda pilihan
​Jangan mudah terprovokasi isu yang memecah belah
​Persatuan warga adalah kekuatan utama desa kita
​Ingat: Anggota BPD berfungsi mengawasi, menampung, dan menyuarakan aspirasi seluruh warga desa — bukan kelompok tertentu

Mari kita sukseskan pemilihan anggota BPD dengan damai, bermartabat, dan tetap rukun. Karena desa yang maju bukan desa yang pilihannya sama semua, tapi desa yang warganya tetap bersatu meski berbeda pilihan.

Disclaimer:
Artikel ini disusun oleh Muhamad Sarman LSM KPMP sebagai materi edukasi untuk menjaga kedamaian, persatuan, dan kewajaran dalam proses pemilihan anggota BPD. Tidak bermaksud memihak, mendukung, maupun menjatuhkan calon atau pihak mana pun. Semoga bermanfaat bagi seluruh warga desa demi kemajuan bersama.

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img