Omah Budaya Kahangnan Saksi Sosok Jataka dalam Pewayangan

Bantul, Redaksi Satu | Omah Budaya Kahangnan, Bantul, Yogyakarta, menyelenggarakan event Selapanan Pentas Wayang Kontemporer pada 6 September 2026. 

Kegiatan ini digelar oleh Jaringan Wayang Kontemporer (JWK) dengan menghadirkan, penampil B’Djo Ludiro.

Pentas tersebut menghadirkan karya wayang kontemporer yang tidak hanya menawarkan tontonan, tetapi juga membuka ruang perenungan mengenai nilai kehidupan, pengorbanan, kasih sayang, dan perjalanan batin manusia.

B’Djo Ludiro mengangkat kisah Jataka, cerita mengenai perjalanan Sang Bodhisatwa yang banyak dikenal melalui relief-relief pada candi bercorak Buddha di Nusantara.

Omah Budaya Kahangnan, Melahirkan Sosok Pewayangan Miliki Kualitas dalam Menyambut Kehadiran Mancanegara ke Yogyakarta

Salah satu kisah yang diangkat adalah perjalanan Maetribala, sebuah cerita yang menggambarkan ketulusan hati dan pengorbanan luar biasa demi menegakkan dharma serta kasih sayang kepada sesama.

Dalam kisah tersebut, Maetribala digambarkan rela menyerahkan hidupnya, untuk dimakan raksasa.

BACA JUGA  Kejati Kalbar Proses Hukum Pihak Bank Kalbar terkait Pembelian Lahan?

Pengorbanan itu menjadi gambaran, tentang keberanian melepaskan kepentingan diri demi memberikan manfaat bagi kehidupan yang lebih luas.

Omah Budaya Kahangnan Saksi Kisah Pewayangan, yang Akan menghadirkan penampil B’Djo Ludiro.

Pentas tersebut menghadirkan karya wayang kontemporer yang tidak hanya menawarkan tontonan, tetapi juga membuka ruang perenungan mengenai nilai kehidupan, pengorbanan, kasih sayang, dan perjalanan batin manusia.

Bagi B’Djo Ludiro, kisah Jataka bukan sekadar cerita masa lampau. Nilai yang terkandung di dalamnya masih memiliki relevansi dengan, kehidupan manusia masa kini.

Pengolahan cerita tersebut kemudian diterjemahkan, ke dalam bentuk wayang, yang memiliki karakter visual berbeda.

B’Djo Ludiro mengambil inspirasi bentuk Mego atau awan sebagai salah satu sumber penciptaan artistiknya.

Karakter Mego yang senantiasa berubah bentuk menjadi simbol tentang dinamika kehidupan.

BACA JUGA  Omah Budaya Kahangnan Solusi Jawaban Program GKR Bendoro

Awan tidak pernah benar-benar menetap dalam satu bentuk, sebagaimana kehidupan manusia yang selalu bergerak, berubah, dan mengalami proses.

Spirit perubahan tersebut menjadi bagian penting dalam penciptaan karya B’Djo Ludiro. Kehidupan dipandang sebagai sesuatu yang dinamis, dan tidak ada yang benar-benar tetap.

Meskipun pola figuratif wayang yang digunakan masih memiliki akar pada bentuk klasik, B’Djo Ludiro memberikan sentuhan kontemporer melalui ornamen, motif pakaian, serta aksentuasi visual yang mengambil karakter gaya Mego.

Perpaduan antara tradisi dan eksplorasi artistik tersebut memperlihatkan, bahwa wayang dapat terus mengalami perkembangan tanpa harus kehilangan hubungan dengan akar kebudayaannya.

Kekontemporeran karya juga, terlihat dalam penggunaan instrumen musik dan pengrawit yang memanfaatkan aplikasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian, dari eksperimen kreatif dalam menghadirkan pengalaman baru di ruang pertunjukan wayang.

Pentas kemudian tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan. Setelah pertunjukan selesai,

BACA JUGA  Artificial Intelligence Tidak Boleh Menghapus Jati Diri Bangsa

JWK menghadirkan ruang diskusi dan kritik sebagai bagian dari, proses apresiasi sekaligus evaluasi terhadap karya yang telah dipentaskan.

Diskusi tersebut menghadirkan teatrawan Eko Winardi yang memberikan catatan, dari sisi teknis pementasan. Sementara diskusi tematik menghadirkan budayawan muda Irfan Afifi.

Rangkaian diskusi dipandu oleh pantomer Ficky Tri Sanjaya sehingga pembahasan berlangsung sebagai ruang dialog antara seniman, pengamat, dan penonton.

Dalam catatan teknisnya, Eko Winardi menekankan pentingnya latihan sebelum sebuah pementasan dilakukan, apa pun bentuk dan skala event yang diikuti oleh seorang penampil.

Menurutnya, keberadaan sebuah event tidak semestinya menjadi alasan untuk mengesampingkan kualitas pementasan.

Seorang penampil tetap memiliki tanggung jawab artistik, terhadap karya yang disampaikan kepada publik.

Latihan menjadi bagian penting, karena seorang penampil dituntut mampu memberikan sesuatu kepada audiens.

BACA JUGA  ARTJOG 2024 Digelar 28 Juni-1 September 2024 di Jogja National Museum, Bertema Motif: Ramalan.

Pertunjukan bukan sekadar hadir di atas panggung, tetapi harus mampu menghadirkan pengalaman dan makna bagi penontonnya.

Sementara itu, Irfan Afifi menyoroti kandungan moral positif yang terdapat dalam kisah-kisah Jataka.

Di dalamnya terdapat berbagai ajaran mengenai kerelaan berkorban, kebermanfaatan bagi orang banyak, serta sikap ikhlas dan sepi ing pamrih.

Nilai-nilai tersebut dinilai memiliki arti penting ketika ditempatkan, dalam konteks kehidupan sosial masyarakat saat ini.

Irfan juga menyoroti adanya keterputusan transmisi sosial terhadap, nilai-nilai moral tersebut.

Fenomena itu dapat dilihat dari berbagai persoalan sosial, termasuk praktik korupsi yang bahkan dalam kondisi tertentu seolah telah mengalami normalisasi dan menjadi kebiasaan.

Selain persoalan korupsi, kecenderungan hidup yang semakin asosial dan individualistik juga menjadi perhatian.

BACA JUGA  BPR MSA: Sumbang 100 Ekor Kambing Untuk Warga Yogyakarta

Sikap tidak peduli serta berkurangnya kepekaan terhadap lingkungan, menunjukkan adanya tantangan dalam pewarisan nilai sosial dan moral.

Karena itu, kisah Jataka dapat dibaca kembali bukan hanya sebagai warisan cerita keagamaan dan kebudayaan, tetapi sebagai sumber refleksi mengenai bagaimana manusia membangun hubungan dengan sesama dan lingkungannya.

Pentas wayang kontemporer B’Djo Ludiro dengan demikian menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, teknologi, dan refleksi sosial. Bentuk klasik bertemu dengan estetika Mego, sementara teknologi AI digunakan sebagai bagian dari eksplorasi musikal pertunjukan.

Menariknya, sebelum pentas dimulai, penyelenggara juga menyediakan kelas pemula bagi masyarakat yang ingin mengenal proses pembuatan wayang.

Kelas tersebut memberikan pengenalan teknik tatah sungging tingkat dasar yang dipandu oleh Made Singamurdaya, alumni Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta (AKNSB Yogyakarta).

Kehadiran kelas tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan JWK tidak hanya berorientasi pada pementasan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dan regenerasi bagi masyarakat yang ingin mengenal dunia wayang dari proses paling dasar.

Selapanan Pentas Wayang Kontemporer di Omah Budaya Kahangnan akhirnya menjadi sebuah ruang kebudayaan yang mempertemukan karya, kritik, pendidikan, teknologi, dan nilai kehidupan.

BACA JUGA  Kejaksaan Pontianak Tangkap DPO Perkara Perbankan di Jakarta

Melalui tafsir kreatif atas kisah Jataka yang dipadukan dengan pengolahan visual karya Mego, B’Djo Ludiro menghadirkan ruang refleksi bagi penonton untuk memahami kembali nilai-nilai pengorbanan, perubahan, kasih sayang, dan tanggung jawab kemanusiaan.

Pertunjukan tersebut tidak semata menjadi sajian artistik, tetapi juga menawarkan pesan tentang pentingnya menghadirkan kehidupan yang lebih bermakna, bermanfaat, dan memberi dampak positif bagi sesama.

Kehadiran karya tersebut sekaligus menjadi bagian dari semangat menyambut hubungan kebudayaan dan persahabatan antara Indonesia, India, dan China yang hadir di Yogyakarta melalui DPP Putri KGR Bendara.

Pertemuan lintas budaya itu menjadi momentum untuk memperkuat dialog, memperluas jejaring kebudayaan, serta membangun ruang bersama yang menjadikan seni dan tradisi sebagai jembatan persaudaraan antarmanusia. (Editor Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi Hartono).

Html code here! Replace this with any non empty text and that's it.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img