Sedulur Papat Limo Pancer Peta Kesadaran Menuju Jatidiri Manusantara

Jawa Timur, Redaksi Satu | Ketua Yayasan Raket Prasaja Sutrimo Rekso Budaya mengungkapkan, pemaknaan mendalam mengenai lapisan keempat dalam konsep Sedulur Papat Limo Pancer.

“Yang dipandang sebagai salah satu, kerangka budaya Nusantara dalam membaca perjalanan kesadaran manusia.

Dalam pemaknaan tersebut, manusia tidak hanya diajak mengenali keberadaan dirinya sebagai “Aku”, tetapi juga bergerak menuju kesadaran yang lebih dalam, yakni mengenal “Akunya Aku”.

Kesadaran itu menjadi proses panjang untuk menerima seluruh perjalanan hidup, penghidupan, dan kehidupan dengan segenap anasir suka, duka, nestapa, maupun gembira.

Proses tersebut pada akhirnya diarahkan pada sebuah keadaan yang disebut “Manusia Berjati Diri, Bahagia Dalam Takdir.”

Sebuah pemaknaan yang menempatkan manusia sebagai pribadi yang mampu menerima, memahami, dan menjalani seluruh dinamika kehidupan dengan kesadaran.

Dalam konstruksi pemikiran tersebut, Pohon Jampinang disebut sebagai salah satu Tanda Sloka Sastra Realita, yang menjadi alat bantu untuk memahami energi dan aksi-interaksi yang proaktif, produktif, serta transformatif dari Sedulur Papat dan Limo Pancer.

BACA JUGA  Awali Kejurnas 2022 PB Squash Gelar Pelatihan Wasit Nasional

Pohon Jampinang dengan demikian ditempatkan bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai perangkat tafsir budaya untuk membaca hubungan antara manusia, kesadaran, energi kehidupan, tindakan, serta proses perubahan yang berlangsung dalam kehidupan.

Ki Guntur Bisowarno, Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System, mengatakan bahwa lapisan keempat tersebut tidak hanya dipahami sebagai bagian dari konstruksi simbolik kelahiran manusia, tetapi juga ditempatkan sebagai sebuah perjalanan batin yang menghubungkan kesadaran, keseimbangan, daya gerak, penyatuan, hingga kembali kepada jati diri.

Menurutnya, kerangka tersebut dapat dipertegas melalui hubungan simbolik antara Kawah dengan Eling, Ari-ari dengan Sabar, Getih dengan Greget, Puser dengan Manunggal, dan Aku sebagai Pancer.

Rangkaian tersebut memberikan sebuah arah perjalanan yang dapat dirumuskan sebagai Mbukak, Njaga, Nggerakke, Manunggal, hingga Mancer. Setiap tahapan memiliki makna simbolik dalam perjalanan manusia mengenali, menjalani, dan mengembangkan dirinya.

Kawah dimaknai sebagai pintu Eling, yaitu kesadaran bahwa manusia perlu mengenali keberadaan dirinya, menyadari kehidupannya, sekaligus memahami hubungan dirinya dengan lingkungan dan sumber kehidupan.

Eling menjadi pintu awal karena tanpa kesadaran, manusia akan sulit membaca pengalaman hidup yang sedang dijalaninya. Kesadaran menjadi dasar untuk melihat kehidupan bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa, tetapi sebagai proses pembelajaran.

Ari-ari kemudian ditempatkan dalam makna Sabar. Sabar dalam kerangka ini bukan semata-mata sikap pasif, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan ketika manusia berhadapan dengan berbagai dinamika kehidupan.

BACA JUGA  Terkait Kasus Dana Hibah Yayasan Mujahidin Kalbar, Kejati Periksa 27 Orang

Kesabaran menjadi kekuatan untuk menjaga diri agar tidak kehilangan arah. Ia menjadi kemampuan untuk menerima proses tanpa berhenti bergerak menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Sementara itu, Getih dimaknai sebagai Greget, sebuah daya dorong yang membuat manusia tidak berhenti pada kesadaran, tetapi mampu bergerak, berkarya, bertindak, dan mengambil bagian dalam kehidupan.

Greget menjadi energi perubahan. Kesadaran yang tidak diwujudkan dalam tindakan akan berhenti sebagai pemahaman, sementara tindakan yang tidak dilandasi kesadaran dapat kehilangan arah.

Pada lapisan berikutnya terdapat Puser atau Jampinang, yang ditempatkan sebagai titik penting dalam gagasan Manunggal. Dalam kerangka filosofis tersebut,

Jampinang tidak sekadar dipandang sebagai simbol tali penghubung, tetapi sebagai gambaran keterhubungan manusia dengan sumber kehidupan.

Jampinang kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan kesadaran. Manusia tidak hanya bergerak keluar untuk mengenali dunia, tetapi juga memiliki perjalanan kembali menuju inti dirinya.

Dari sinilah empat unsur simbolik tersebut menemukan keterhubungan makna: Kawah memberi Eling, Ari-ari memberi Sabar, Getih memberi Greget, sedangkan Puser memberi Manunggal.

BACA JUGA  "Topeng" Simbol Ketulusan dan Peradaban Nusantara di Panggung Wayang Kulit

Sedangkan Pancer adalah Aku yang menjalani seluruh proses tersebut. Pancer bukan sekadar titik akhir, melainkan pusat kesadaran yang mengalami, menjalani, dan mengintegrasikan seluruh perjalanan kehidupan.

Formula filosofis yang kemudian muncul adalah Eling + Sabar + Greget + Manunggal = Pancer. Rumusan tersebut menggambarkan bahwa kesadaran manusia tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui proses yang berkesinambungan.

Jika diterjemahkan secara sederhana, perjalanan tersebut dapat dibaca sebagai Sadar, Seimbang, Bergerak, Menyatu, kemudian Menjadi Diri Sejati.

Pada tahap inilah gagasan Ditanami mendapatkan makna penting. Ditanami dapat dibaca sebagai proses menanamkan kesadaran, nilai, dan laku kehidupan sehingga apa yang tumbuh dalam diri manusia bukan sekadar pengetahuan, tetapi menjadi karakter dan jati diri.

Manusia kemudian bergerak dari kesadaran mengenal “Aku” menuju kesadaran mengenal “Akunya Aku.” Perjalanan tersebut bukan sekadar perubahan istilah, tetapi menggambarkan pendalaman kesadaran mengenai siapa dirinya dan bagaimana dirinya menjalani kehidupan.

Kesadaran tersebut memungkinkan manusia menerima seluruh proses hidup, penghidupan, dan kehidupan, lengkap dengan anasir suka, duka, nestapa, maupun gembira. Semua pengalaman ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk manusia.

Dengan demikian, kebahagiaan tidak semata-mata dipahami sebagai keadaan tanpa masalah. Kebahagiaan justru dapat dimaknai sebagai kemampuan manusia menjalani takdir dengan kesadaran, menerima proses, serta tetap memiliki arah dalam kehidupannya.

BACA JUGA  Nusantara Bukan Subyek Benda Peradaban Mati, Ini Sejarahnya!!

Dari perspektif tersebut lahirlah pemaknaan “Manusia Berjati Diri, Bahagia Dalam Takdir.” Manusia yang mengenal dirinya tidak lagi hanya mengejar keadaan tertentu, tetapi belajar memahami dan menjalani seluruh proses kehidupannya.

Konsep tersebut juga membawa pembahasan mengenai Healing Jampinang ke dalam pengertian yang lebih luas. Healing dalam kerangka ini tidak ditempatkan sekadar sebagai upaya menghilangkan rasa sakit, melainkan sebagai proses pemulihan kesadaran dan pengenalan kembali terhadap jati diri.

Secara konseptual, Healing Jampinang dapat dirumuskan melalui tahapan Pemulihan, Pemuliaan, Penguatan, Penyatuan, hingga Pancer.

Dengan pemaknaan tersebut, tujuan akhirnya bukan sekadar mengatakan, “Aku sehat,” tetapi mencapai kesadaran: “Aku kembali mengenali siapa diriku, bagaimana aku hidup, dan kepada sumber mana hidupku terhubung.”

Gagasan tersebut sekaligus membuka ruang pembacaan terhadap istilah Roh Suci, Nyawa Sejati, Roso Orep Sejati, Jampinang, dan Manusia Sejati sebagai bagian dari kerangka filosofis, spiritual, serta tafsir budaya Nusantara.

Ki Guntur Bisowarno menyampaikan bahwa istilah-istilah tersebut penting ditempatkan dalam wilayah filosofis, spiritual, dan kebudayaan. Dengan demikian, pembahasannya tidak bercampur dengan klaim medis ataupun penjelasan biologis mengenai darah, ari-ari, plasenta, dan tali pusar.

Pemisahan tersebut justru memberikan ruang agar nilai budaya dapat dibicarakan secara lebih jernih. Tradisi dan simbol budaya memiliki ruang untuk ditafsirkan sebagai pengetahuan kultural tanpa harus mengubahnya menjadi klaim ilmiah yang tidak semestinya.

Dalam kerangka Sedulur Papat Limo Pancer, manusia kemudian ditempatkan sebagai pelaku utama perjalanan. Ia membuka kesadaran, menjaga keseimbangan, menggerakkan kehidupan, menyatukan pengalaman, kemudian kembali menemukan pusat dirinya.

BACA JUGA  Kepala UPT: Persoalan Sampah, Masih di Kaji

Perjalanan itu dapat dibaca sebagai gerak dari luar menuju dalam dan dari dalam kembali menuju kehidupan. Ada proses Mbukak, Njaga, Nggerakke, Manunggal, lalu Mancer, yakni menghadirkan diri secara utuh dalam kehidupan.

Pancer dengan demikian menjadi simbol pusat. Ia merupakan “Aku” yang tidak hanya mengetahui perjalanan, tetapi menjalani seluruh proses tersebut dengan kesadaran hingga mampu mengenali Akunya Aku.

Dari perspektif budaya, pemaknaan tersebut menunjukkan bahwa warisan pengetahuan Nusantara memiliki cara tersendiri dalam membaca manusia. Simbol-simbol kelahiran dapat menjadi bahan refleksi mengenai asal, perjalanan, hubungan, kesadaran, dan kehidupan manusia.

Pada akhirnya, Sedulur Papat Limo Pancer dapat ditempatkan sebagai sebuah tafsir budaya yang mengajak manusia kembali membaca dirinya secara utuh: Eling, Sabar, Greget, Manunggal, kemudian Pancer.

Seluruh perjalanan tersebut bermuara pada manusia yang mengenal dirinya, menerima proses hidup penghidupan kehidupan, serta mampu menjalani suka, duka, nestapa dan gembira sebagai bagian dari perjalanan menuju manusia berjati diri.

Sebagaimana ungkapan filosofis yang menjadi penutup gagasan tersebut: “Sedulur Papat iku dalan: Kawah nggawe Eling, Ari-ari nggawe Sabar, Getih nggawe Greget, Puser nggawe Manunggal; kabeh tumuju marang AKU minangka Pancer.”

HIDUP SEMESTA. SATUNGGAL OTOH OTTOH UTTUH. (Oleh Jurnalis: Kairos-Kairozo).

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img