Malang, Redaksi Satu | Pranata Alam, merupakan bagian penting dari perjalanan menuju peradaban Nusantara sejati.
Gagasan tersebut disampaikan Guntur Bisowarno dari Bamboo Spirit Nusantara, ketika menyapa alam dari kawasan Resi Gunung Arjuno, Pasuruan, Jawa Timur, Pada Jumat, (4/9/2026) Pukul 10.00-13.00 WIB, di Candi sumber awan, Kecamatan Singosari, Desa Toyomarto, Kabupaten Malang.
Suasana berbeda terasa ketika Bamboo Spirit Nusantara bersama Guntur Bisowarno, Mat Pelor, Ki Tohari, dan sejumlah sahabat berada di kawasan pegunungan yang sarat dengan kekayaan alam dan nilai kebudayaan tersebut.
Bagi mereka, alam bukan sekadar ruang geografis tempat manusia berpijak, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dihormati, dirawat, dan dijaga keberlangsungannya.
Gunung Arjuno menjadi salah satu ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan alam. Di tengah suasana pegunungan, mereka mencoba melihat kembali bagaimana manusia seharusnya menempatkan dirinya dalam tatanan kehidupan semesta.
Guntur Bisowarno menegaskan bahwa manusia sejati tidak dapat dipisahkan dari alam. Kehidupan manusia pada hakikatnya memiliki hubungan yang erat dengan tanah, air, hutan, gunung, udara, serta seluruh unsur kehidupan yang menopang keberadaan manusia.
Dalam pandangan tersebut, Pranata Alam menjadi sebuah konsep yang mengajak manusia untuk kembali memahami keseimbangan. Alam memiliki pranata atau tatanannya sendiri yang harus dihormati, bukan ditaklukkan secara berlebihan.
Karena itu, pembangunan peradaban tidak cukup hanya diukur melalui kemajuan teknologi, ekonomi, dan infrastruktur. Peradaban juga harus dilihat dari kemampuan manusia menjaga hubungan harmonis dengan alam.
Bamboo Spirit Nusantara melihat pengabdian kepada alam sebagai bagian dari perjalanan membangun kesadaran manusia. Pengabdian tersebut bukan semata-mata kegiatan fisik, tetapi juga proses membangun kesadaran batin untuk menghargai kehidupan.
Dalam perjalanan itu, hadir gagasan mengenai BSN Support System, sebuah sistem dukungan yang diletakkan dalam semangat cinta dan kasih sayang terhadap kehidupan.
Guntur Bisowarno mengingatkan agar lembaga maupun manusia yang berada dalam lingkungan support system tersebut tidak terputus dari nilai cinta kasih sayang yang menjadi fondasinya.
Menurut gagasan tersebut, hubungan antarmanusia tidak seharusnya dibangun atas dasar kepentingan sesaat. Hubungan perlu dirawat melalui kepercayaan, persaudaraan, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Support system dalam perspektif Bamboo Spirit Nusantara dipahami sebagai kekuatan yang saling menopang. Setiap manusia memiliki ruang untuk memberikan dukungan sekaligus menerima dukungan dalam perjalanan kehidupan.
Karena itu, kesinambungan hubungan menjadi sesuatu yang penting. Jangan sampai hubungan yang telah dibangun melalui semangat persaudaraan terputus hanya karena perbedaan pandangan, kepentingan, atau persoalan sesaat.
Di kawasan Resi Gunung Arjuno, gagasan tersebut kembali direnungkan dalam suasana alam yang tenang. Gunung, pepohonan, udara, dan bentang alam menjadi ruang untuk melihat kembali hubungan manusia dengan kehidupan.
Bagi mereka, alam mengajarkan bahwa kehidupan berjalan melalui keterhubungan. Tidak ada unsur yang benar-benar berdiri sendiri karena setiap kehidupan memiliki hubungan dengan kehidupan lainnya.
Dari pemahaman tersebut lahir gagasan tentang pentingnya menjaga support system spirit cinta kasih sayang sebagai kekuatan yang menyatukan manusia dengan alam dan sesamanya.
Cinta kasih sayang tidak ditempatkan sebagai sekadar ungkapan emosional, tetapi sebagai nilai yang diwujudkan melalui tindakan nyata dalam menjaga alam, menjaga persaudaraan, dan menjaga keberlanjutan kehidupan.
Pengabdian kepada alam kemudian dipandang sebagai bentuk tanggung jawab manusia kepada generasi yang akan datang. Alam yang dijaga hari ini akan menjadi warisan kehidupan bagi anak cucu di masa depan.
Dalam konteks budaya Nusantara, hubungan manusia dan alam memiliki akar yang panjang. Banyak tradisi masyarakat Nusantara menempatkan gunung, hutan, sungai, tanah, dan sumber air sebagai bagian penting dari keseimbangan kehidupan.
Karena itu, peradaban Nusantara sejati tidak dapat dilepaskan dari kesadaran ekologis dan kebudayaan. Manusia harus mampu hidup bersama alam tanpa kehilangan jati dirinya.
Guntur Bisowarno menyebut gagasan tersebut sebagai bagian dari perjalanan menuju manusia sejati. Manusia sejati adalah manusia yang memahami dirinya sekaligus memahami tempatnya di tengah kehidupan alam semesta.
Kesadaran tersebut mengandung pesan bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam. Manusia merupakan bagian dari alam dan memiliki kewajiban untuk merawat keseimbangan kehidupan.
Dari Resi Gunung Arjuno, pemikiran itu kemudian dihubungkan dengan kawasan yang lebih luas dalam ruang budaya Nusantara, khususnya Panca Gunung Suci di Alam Bumi Suci Singhasari Malangkuceswara.
Panca Gunung Suci dalam pemaknaan tersebut menjadi ruang simbolik untuk memahami keterhubungan antara alam, manusia, sejarah, kebudayaan, dan perjalanan kesadaran.
Di dalamnya terdapat upaya membaca kembali sejarah bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa, tetapi sebagai sumber pembelajaran bagi manusia masa kini.
Salah satu bagian yang kemudian menjadi bahan perenungan adalah kisah mengenai Maha Resi Empu Gandring dan Ken Arok yang selama ini dikenal melalui berbagai tradisi tutur dan penulisan sejarah Jawa.
Dalam perspektif spiritual-kultural yang disampaikan tersebut, muncul sebuah pemaknaan bahwa tidak seharusnya sejarah hanya dibaca melalui narasi kutukan, konflik, dan pembunuhan.
Gagasan itu memandang kisah tersebut melalui pendekatan yang lebih simbolik, yaitu bagaimana manusia dapat menemukan kembali makna persaudaraan, kesucian hubungan, dan kedalaman nilai kehidupan di balik kisah masa lampau.
Dalam pandangan tersebut, ungkapan “Tak Ada Kutukan Maha Resi Empu Gandring” menjadi sebuah refleksi untuk melihat sejarah dengan kesadaran yang berbeda.
Begitu pula kisah tentang Ken Arok dan Maha Resi Empu Gandring ditempatkan sebagai bahan perenungan kebudayaan, bukan sekadar narasi konflik antarmanusia.
Pemaknaan tersebut menekankan bahwa perjalanan peradaban membutuhkan kemampuan manusia untuk melampaui dendam, prasangka, dan pertentangan.
Di sinilah gagasan tentang Keluarga Suci dan Hubungan Persaudaraan Suci mendapatkan tempat penting dalam pemikiran Bamboo Spirit Nusantara.
Keluarga Suci dimaknai sebagai kesadaran bahwa manusia memiliki hubungan yang lebih luas daripada sekadar hubungan biologis. Persaudaraan dapat tumbuh melalui kesadaran untuk saling menghormati, mencintai, dan menjaga.
Dalam naungan persatuan jiwa buana, manusia diharapkan mampu membangun kehidupan yang tidak terpecah oleh kepentingan pribadi maupun kelompok.
Spirit cinta kasih sayang kemudian menjadi fondasi untuk membangun hubungan tersebut. Dengan cinta kasih, perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan, melainkan dapat menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.
Bamboo Spirit Nusantara membawa gagasan bahwa alam dan manusia seharusnya berjalan dalam hubungan yang seimbang. Alam dirawat, manusia dibangun kesadarannya, dan kebudayaan dijaga keberlangsungannya.
Dari Gunung Arjuno hingga ruang budaya Singhasari, perjalanan tersebut menjadi sebuah refleksi tentang bagaimana Nusantara dapat menemukan kembali nilai-nilai luhurnya.
Pranata Alam dengan demikian tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi juga mengenai pranata kehidupan manusia. Cara manusia memperlakukan alam menjadi cermin dari cara manusia memperlakukan sesamanya.
Ketika alam dihormati, manusia belajar menghormati kehidupan. Ketika manusia menjaga sesamanya, manusia juga belajar menjaga keseimbangan alam.
Guntur Bisowarno bersama Bamboo Spirit Nusantara menempatkan pengabdian tersebut sebagai bagian dari perjalanan panjang membangun kesadaran peradaban.
Pesan yang dibawa dari Resi Gunung Arjuno adalah bahwa support system harus terus dijaga melalui cinta, kasih sayang, persaudaraan, dan pengabdian yang nyata.
Jangan sampai hubungan manusia dengan alam maupun hubungan antarmanusia terputus oleh kepentingan sesaat. Sebab, keberlangsungan peradaban sangat bergantung pada kemampuan manusia menjaga keterhubungan tersebut.
Pada akhirnya, Pranata Alam dipandang sebagai salah satu jalan untuk memahami kembali hakikat manusia dan peradaban Nusantara. Alam menjadi guru, kebudayaan menjadi ruang pembelajaran, dan persaudaraan menjadi kekuatan yang menjaga kehidupan.
Dari Resi Gunung Arjuno, Bamboo Spirit Nusantara menyampaikan pesan bahwa peradaban sejati bukanlah tentang siapa yang paling kuat menguasai alam, melainkan siapa yang mampu menjaga kehidupan dengan kesadaran, cinta kasih, dan tanggung jawab.
Dalam semangat tersebut, manusia sejati adalah manusia yang kembali menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari buana, bagian dari alam, dan bagian dari keluarga besar kehidupan.
Perjalanan itu menjadi pengingat bahwa Nusantara memiliki kekayaan nilai yang dapat terus digali untuk membangun masa depan yang lebih harmonis.
Pranata Alam, Keluarga Suci, Hubungan Persaudaraan Suci, serta support system spirit cinta kasih sayang menjadi satu rangkaian gagasan yang mengarah pada cita-cita membangun peradaban Nusantara yang berakar pada keseimbangan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap alam.
Dari Gunung Arjuno, pesan tersebut kembali ditegaskan: merawat alam adalah merawat kehidupan, menjaga persaudaraan adalah menjaga peradaban, dan menumbuhkan cinta kasih adalah menjaga masa depan Nusantara. (Penulis: Saidi Hartono).




