Saresehan ROS “Roso Orep Sejati”: KAIROS, di Parangtritis

Saresehan ROS “Roso Orep Sejati”: KAIROS, Parangtritis, Batu Karang, dan Jalan “Terima Diri Nitis”
Narasumber: Ketua Bamboo Spirit Nusantara Ki Guntur Bisowarno
Redaktur Pelaksana: Saidi Hartono | Jurnalistik KAIROS.

Redaksi Satu | Ada sebuah ruang perjumpaan yang tidak hanya dibangun untuk berbicara, tetapi juga untuk merasakan, mengingat, memahami, dan menemukan kembali makna perjalanan manusia. Ruang itu dirangkai dalam gagasan Saresehan ROS – Roso Orep Sejati.

ROS atau Roso Orep Sejati ditempatkan sebagai sebuah ruang untuk membaca kehidupan melalui pengalaman. Setiap kejadian, pertemuan, perjalanan, tempat, waktu, dan rasa dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan secara lebih mendalam.

Dalam gagasan tersebut, manusia tidak hanya dipandang sebagai pelaku sebuah peristiwa. Manusia juga menjadi saksi yang mengalami, menghayati, mengingat, dan kemudian memberikan kesaksian atas apa yang telah dilaluinya.

Di sinilah istilah KAIROS mendapatkan tempat penting. KAIROS dapat dipahami sebagai momentum yang memiliki makna, ketika waktu, tempat, manusia, pengalaman, dan kesadaran bertemu dalam sebuah peristiwa yang memberikan arti.

Saksi Kunci KAIROS dengan demikian bukan semata-mata seseorang yang melihat sebuah kejadian. Saksi adalah mereka yang mengalami sebuah perjalanan, menyadari maknanya, kemudian mampu menceritakan dan mempertanggungjawabkan pengalaman tersebut secara jujur.

Saresehan ROS menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman-pengalaman tersebut. Tidak ada pengalaman manusia yang benar-benar kosong, karena di dalam setiap perjalanan selalu terdapat pelajaran yang dapat menjadi pengetahuan bagi kehidupan.

Gagasan ROS kemudian membawa perhatian kepada Parangtritis, sebuah ruang yang memiliki kekuatan simbolik melalui laut, pasir, angin, karang, horizon, dan perjumpaan manusia dengan alam.

BACA JUGA  FP UNIB Budidayakan Ikona Melon

Di Parangtritis, manusia dapat merasakan betapa kecil dirinya ketika berhadapan dengan luasnya laut dan cakrawala. Namun pada saat yang sama, manusia juga menemukan keberanian untuk mengenali dirinya sendiri.

Laut yang terus bergerak menjadi gambaran perjalanan kehidupan. Gelombang datang dan pergi, sementara manusia terus belajar menghadapi perubahan, kehilangan, perjumpaan, keberhasilan, kegagalan, serta berbagai kejadian yang membentuk perjalanan hidup.

Pasir menjadi simbol jejak. Setiap langkah meninggalkan bekas, tetapi jejak tersebut dapat berubah ketika diterpa angin dan gelombang. Begitu pula perjalanan manusia yang terus mengalami perubahan sepanjang waktu.

Di antara laut dan daratan, batu karang menjadi gambaran lain tentang keteguhan. Batu karang menghadapi gelombang berulang kali, tetapi keberadaannya tetap menjadi bagian dari bentang alam yang menyimpan perjalanan waktu.

Batu Karang Budaya Peradaban Dunia kemudian dapat dibaca sebagai sebuah metafora tentang keteguhan nilai. Peradaban manusia tidak hanya dibangun melalui gedung, teknologi, ekonomi, atau kekuasaan, tetapi juga melalui nilai yang mampu bertahan melewati perubahan zaman.

Budaya adalah ingatan panjang manusia. Di dalam budaya terdapat bahasa, kesenian, pengetahuan, tradisi, tata kehidupan, pengalaman masyarakat, serta nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Peradaban kemudian tumbuh ketika pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai ingatan. Ia berkembang menjadi pengetahuan, menjadi karya, menjadi tata kehidupan, dan menjadi sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi manusia dan lingkungan.

BACA JUGA  Saatnya Revolusi Pers Indonesia Sukses

Karena itu, batu karang dapat menjadi simbol bahwa kebudayaan harus memiliki akar yang kuat. Namun akar yang kuat bukan berarti menolak perubahan, melainkan memberikan pijakan agar manusia tidak kehilangan arah ketika menghadapi gelombang zaman.

Dalam konteks tersebut, Saresehan ROS bukan sekadar forum untuk mengumpulkan orang. Saresehan merupakan ruang kemanusiaan, tempat pengalaman dapat bertemu dengan pengalaman lain.

Orang tua membawa ingatan perjalanan hidup. Generasi muda membawa pertanyaan tentang masa depan. Para pelaku budaya membawa pengalaman kebudayaan, sementara masyarakat membawa kenyataan kehidupan sehari-hari.

Pertemuan berbagai pengalaman tersebut dapat melahirkan pemahaman baru. Perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi dapat menjadi sumber pengetahuan apabila setiap orang memiliki kesediaan untuk mendengar.

Mendengar menjadi bagian penting dari kesaksian. Sebab sebuah kesaksian tidak hanya membutuhkan keberanian untuk berbicara, tetapi juga kerendahan hati untuk menerima pengalaman orang lain.

Dari sinilah ROS menjadi ruang rasa. Rasa bukan sekadar emosi, melainkan pengalaman batin yang membuat manusia mampu memahami sesuatu secara lebih utuh.

Roso Orep Sejati mengajak manusia untuk tidak hanya menjalani kehidupan secara otomatis. Manusia diajak berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah dilalui, kemudian bertanya tentang makna yang muncul dari perjalanan tersebut.

BACA JUGA  Wow Keren Prof Dr Sutan Nasomal Gabung RGP.RI.1 2024

Dalam perjalanan itu, KAIROS menjadi penanda tentang pentingnya momentum. Ada saat tertentu ketika sebuah pertemuan menjadi berarti, sebuah percakapan menjadi penting, atau sebuah tempat tiba-tiba membuka kesadaran baru dalam diri seseorang.

Momentum tersebut tidak selalu datang dalam bentuk peristiwa besar. Kadang-kadang KAIROS muncul melalui percakapan sederhana, pertemuan dengan seseorang, perjalanan menuju sebuah tempat, atau pengalaman yang awalnya dianggap biasa.

“Yang membuatnya menjadi penting adalah kesadaran manusia dalam membaca pengalaman tersebut. Karena itu, Saksi Kunci KAIROS adalah manusia yang mampu menangkap makna dari sebuah momentum.

Dari kesadaran terhadap momentum, perjalanan ROS kemudian mengarah kepada satu ungkapan penting: Terima Diri – Nitis.
Terima diri bukan berarti menyerah kepada keadaan.

Terima diri berarti berani melihat diri secara jujur, menerima asal-usul, memahami pengalaman, mengenali kekurangan dan kelebihan, serta menyadari perjalanan yang telah membentuk diri.

Sementara Nitis dapat dipahami sebagai proses menghadirkan sesuatu yang telah dipelajari ke dalam kehidupan. Pengalaman tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi menitis menjadi sikap, tindakan, karya, dan manfaat.

Dengan demikian, menerima diri menjadi awal dari perjalanan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih berarti. Manusia tidak hanya berdamai dengan masa lalunya, tetapi juga menggunakan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk membangun masa depan.

BACA JUGA  Pilkada Taput Diharapkan Berjalan Damai dan Jujur

Dalam perspektif budaya, proses tersebut juga berarti menerima akar. Manusia mengenali dari mana ia berasal, memahami lingkungan yang membentuknya, kemudian membawa nilai baik tersebut ke dalam kehidupan yang terus berubah.

Di sinilah budaya dan teknologi dapat bertemu. Teknologi dapat membantu manusia mendokumentasikan cerita, menyimpan ingatan, merekam pengalaman, serta menyebarkan pengetahuan kepada generasi yang lebih luas.

Namun teknologi tetap membutuhkan manusia sebagai sumber pengalaman dan nilai. Mesin dapat mengolah data, tetapi manusia membawa rasa, kesadaran, tanggung jawab, dan pengalaman kehidupan.

Karena itu, KAIROS dapat menjadi jembatan antara pengalaman manusia dengan perkembangan zaman. Kesaksian yang lahir dari kehidupan dapat didokumentasikan agar tidak hilang bersama berjalannya waktu.

Saresehan juga dapat menjadi ruang untuk menyusun kembali potongan-potongan pengalaman. Cerita personal dapat bertemu dengan cerita keluarga, sejarah komunitas dapat bertemu dengan sejarah lokal, dan pengalaman lokal dapat dihubungkan dengan perjalanan peradaban yang lebih luas.

Dari sini, konsep APA SAJA dapat dibaca sebagai keterbukaan terhadap berbagai pengalaman yang mungkin memiliki nilai. Tidak harus selalu sesuatu yang besar, karena hal-hal sederhana pun dapat menjadi bagian dari perjalanan pengetahuan.

Sebuah batu, sebuah cerita, sebuah karya seni, sebuah bahasa, sebuah tradisi, sebuah perjalanan, bahkan sebuah percakapan dapat menjadi sumber pembelajaran ketika manusia mampu melihat makna di baliknya.

BACA JUGA  Bangunkerto Miliki Potensi Terabaikan Agrowisata, Butuh Sentuhan Investor

Parangtritis kemudian bukan hanya sebuah lokasi geografis. Ia menjadi ruang refleksi tentang hubungan manusia dengan alam, waktu, perjalanan, dan dirinya sendiri.

Batu karang bukan sekadar benda yang berada di tepi laut. Ia menjadi simbol tentang bagaimana nilai dan kebudayaan dapat bertahan menghadapi gelombang perubahan, sekaligus tetap menjadi bagian dari kehidupan yang terus bergerak.

Pada akhirnya, Saresehan ROS mengajak manusia untuk kembali kepada kesadaran bahwa kehidupan adalah perjalanan bersama. Tidak ada manusia yang berdiri sepenuhnya sendiri karena setiap pengalaman selalu berhubungan dengan keluarga, komunitas, alam, budaya, dan zaman.

Dari Roso lahir kesadaran untuk merasakan. Dari Orep manusia menjalani pengalaman kehidupan. Dari Sejati manusia mencari kejujuran terhadap dirinya sendiri. Dari KAIROS manusia belajar membaca momentum dan kesaksian.

Dari Parangtritis manusia belajar tentang keluasan alam. Dari batu karang manusia belajar tentang keteguhan. Dari budaya manusia belajar tentang akar. Dari peradaban manusia belajar tentang perjalanan panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dan dari Terima Diri – Nitis, manusia diajak untuk mengubah pengalaman menjadi karya, kesadaran menjadi tindakan, pengetahuan menjadi manfaat, serta perjalanan pribadi menjadi sesuatu yang dapat memberikan arti bagi kehidupan bersama.

Pada akhirnya, Saresehan ROS bukan hanya tentang siapa yang berbicara dan siapa yang mendengarkan. Ia adalah perjalanan untuk menemukan kembali hubungan antara manusia, pengalaman, tempat, waktu, budaya, alam, dan peradaban.

BACA JUGA  Ekonomi Pancasila Sebangun Dengan Konsep Islam Dalam Kelola SDA

ROS menjadi ruang rasa. KAIROS menjadi ruang momentum. Saksi menjadi penjaga kesaksian. Parangtritis menjadi ruang perjumpaan. Batu Karang menjadi keteguhan budaya. Dan Terima Diri Nitis menjadi jalan untuk menghadirkan kesadaran ke dalam kehidupan.

Dari pengalaman menjadi kesaksian. Dari kesaksian menjadi pengetahuan. Dari pengetahuan menjadi karya. Dari karya menjadi warisan. Dan dari warisan, manusia terus menulis perjalanan peradabannya untuk generasi yang akan datang.
Redaksi Satu – Redaktur Pelaksana: Saidi Hartono | Jurnalistik KAIROS.

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img