Budaya Nusantara Warisan Leluhur Kode Pesan dari Batik Singosari

Jawa Timur, Redaksi Satu | Persembahan Budaya Nusantara Batik bukan sekadar kain, namun membawa pesan mendalam.

Di dalam tradisi Nusantara, motif, warna, posisi tubuh, ruang, waktu, hingga cara seseorang mengenakannya dapat menjadi bahasa simbolik yang menyimpan pesan tentang hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan kehidupan.

Dari ruang kebudayaan itulah gagasan Batik Kitab Bakti hadir. Sebuah karya yang ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan Bamboo Spirit Nusantara Guntur Bisowarno bersama tim inti Bamboo Spirit Nusantara Support System dalam program 11 Empu Kerajaan Singosari: BANYU, BAMBU, BATIK.

Salah satu bagian penting dari gagasan tersebut adalah Batik Tulis Singosari Berfilosofi, yang dikaitkan dengan sosok Tantri Listyorini Gayantri, yang memasuki usia 60 tahun.

Dalam pembacaan budaya tersebut, usia 60 tahun tidak semata dilihat sebagai angka. Ia dipandang sebagai momentum perjalanan hidup, refleksi, dan pengabdian-sebuah titik untuk menengok kembali sumber nilai sekaligus membuka ruang bagi perjalanan baru.

Karya itu kemudian hadir dengan nama Batik Genta Buana. Nama tersebut membawa gagasan tentang bunyi atau gema yang tidak selalu hadir melalui suara keras, melainkan dapat muncul dari keheningan, gerak, simbol, dan tindakan manusia terhadap alam.

Guntur Bisowarno menyebutnya sebagai salah satu, bentuk eja wantah atau perwujudan gagasan Batik Kitab Bakti. Batik tidak diposisikan hanya sebagai busana, tetapi sebagai “kitab” simbolik yang dibaca melalui motif, warna, lingkungan, dan laku.

Dalam kajian titen yang menyertai foto tersebut, warna menjadi pintu pertama untuk membaca pesan. Dasar hitam dengan motif putih tulang ditafsirkan sebagai Sekar Gading.

BACA JUGA  Kejaksaan Tinggi Kalbar Tahan Askiman Eks Wabup Sintang

Hitam dibaca sebagai simbol bumi, keheningan, kedalaman, dan samudera meneng. Sementara putih tulang atau gading dimaknai sebagai kesucian dan niat bakti.

Dari perpaduan itu muncul ungkapan filosofis: “Soko peteng metu padhang. Soko meneng metu genta.” Dari kegelapan lahir terang, sementara dari keheningan dapat lahir suara yang memiliki makna.

Takwil tersebut kemudian bergerak menuju motif utama yang menjadi pusat perhatian, yaitu Pohon Hayat atau Kalpataru.

Pohon tersebut digambarkan dengan mahkota di bagian atas, akar yang melingkar di bagian bawah, serta unsur awan atau megamendung.

Dalam pembacaan simboliknya, struktur tersebut dikaitkan dengan Singo Singosari dan konsep hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Pohon Hayat menjadi simbol kehidupan yang menghubungkan hulu dan hilir, langit dan bumi, gagasan dan tindakan. Karena itu, konsep HULU → HULUN → HILIR dibaca sebagai perjalanan nilai dari sumber menuju kehidupan nyata.

Tidak hanya motif dan warna, posisi tubuh dalam foto juga menjadi bagian dari pembacaan titen. Sosok yang membelakangi kamera dan menghadap punden, atau tugu batu ditakwilkan sebagai bentuk laku sungkeman.

Takwil Dewan Pertimbangan Rasa Sadar Berkesadaran Sains Spiritual Team Bamboo Spirit Nusantara Support System……lanjut.

BACA JUGA  Artificial Intelligence Tidak Boleh Menghapus Jati Diri Bangsa

Karena kita berbasis Gesang Kasunyatan, Saresehan Roso Orep Sejati, Rasa Sadar Berkesadaran atas Penjiwaan Penghayatan Hidup Penghidupan Kehidupan Kita bersama Alam (Sekolah Alam) dan Allah (Tauhid Tahu Kaitannya).

Pakaian krem polos yang dipadukan dengan sarung batik juga memperoleh takwil tersendiri. Kesederhanaan pada bagian luar dipertemukan dengan kekayaan simbol pada bagian dalam.

Dari sini lahir ungkapan: “Ajining diri saka lathi, ajining batik saka motif.” Nilai manusia tercermin dari ucapannya, sementara nilai batik dapat dibaca melalui motif dan pesan yang dibawanya.

Waktu pengambilan foto pada suasana senja atau menjelang Magrib juga ditempatkan, sebagai simbol sandhi kala.

Dalam tafsir budaya Jawa, senja merupakan ruang peralihan-antara terang dan gelap, antara sesuatu yang berakhir dan sesuatu yang akan dimulai.

Karena itu, senja dalam pembacaan Genta Buana tidak dipahami semata sebagai latar waktu. Ia menjadi metafora tentang perjalanan, pergantian fase, dan momentum untuk menutup pintu lama sekaligus membuka pintu baru.

Lingkungan sekitar foto kemudian dibaca sebagai “Taman Titen” Bunga, daun, batu, genteng, hingga benda-benda kecil di sekitarnya diperlakukan, sebagai unsur visual yang membentuk satu kesatuan simbolik.

BACA JUGA  LaNyalla Singgung Dana Hibah Provinsi

Bunga berwarna kuning dan oranye, misalnya, ditafsirkan sebagai simbol api, semangat, serta empat arah kehidupan. Sementara bunga anggrek berwarna ungu dikaitkan dengan kesucian dan perjumpaan berbagai unsur kehidupan.

Daun hijau yang rimbun dibaca sebagai lambang kehidupan dan daya tumbuh. Kehadiran tumbuhan dalam keseluruhan komposisi memperkuat gagasan, bahwa “kitab” yang dibawa melalui batik tidak berhenti pada manusia, tetapi kembali kepada tanah dan alam.

Tugu batu bertingkat menjadi unsur lain yang mendapat perhatian. Bentuk bertingkat tersebut ditafsirkan sebagai simbol pondasi, punden, gunung, serta perjalanan bertahap—yang dalam pembacaan tertentu dikaitkan dengan Tri Tangga dan Panca.

Bahkan genteng yang bergelombang memperoleh pembacaan simbolik, sebagai gambaran ombak dan samudera.

Sementara botol kaca yang berada di tembok dibaca sebagai unsur penjaga atau penanda, bukan sekadar benda yang kebetulan berada di lokasi.

Dari seluruh unsur tersebut, lahirlah kesimpulan simbolik bahwa ruang dalam foto dapat dipandang sebagai sebuah mandala Kitab Bakti-sebuah ruang tempat manusia, alam, simbol, dan ingatan budaya bertemu.

Pesan yang kemudian dirumuskan dalam bahasa Jawa berbunyi: “Wong sing nggawa kitab, kudu madhep nang sumber.” Orang yang membawa kitab harus kembali menghadap sumbernya.

Batik yang berada di punggung menjadi metafora bahwa Kitab Bakti dipikul, bukan dipamerkan. Nilai pengabdian tidak harus selalu dipertontonkan; ia justru memperoleh makna ketika diwujudkan dalam laku.

Menghadap punden dimaknai sebagai perjalanan kembali kepada sumber: kepada leluhur, tanah, alam, dan akar kebudayaan.

BACA JUGA  Sosok Asmawa Tosepu, Pria Tegar Abdi Negara

Sementara gagasan bahwa “kitab ditanam di tanah yang cocok akan tumbuh menjadi hutan” menggambarkan harapan agar nilai budaya tidak berhenti sebagai simbol, tetapi berkembang menjadi kehidupan nyata.

Dalam pembacaan ini, beberapa tokoh juga ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian simbol. Prof. Adib dikaitkan dengan gagasan Kalpataru dan kesadaran ekologis.

Hutagaol dengan kesadaran hitam-putih dan keheningan; sementara Guntur, ditempatkan pada wilayah tindakan-taman, bunga, tanah, dan gerak kebudayaan.

Di tengah rangkaian itu, Tantri Listyorini Gayantri 60 Tahun menjadi sosok yang secara simbolik memikul “Kitab Bakti”, sedangkan Genta Buana menjadi metafora suara yang lahir dari keheningan-sebuah pesan yang tidak berteriak, tetapi mengajak manusia kembali mendengar alam dan sumber kebudayaannya.

Bahkan kode akhir 41–14 Ditakwilkan, simbol manunggal: empat arah bunga, satu tugu pusat, satu manusia, dan empat unsur alam.

Apakah seluruhnya merupakan kebetulan visual atau rangkaian simbol yang sengaja dibangun, jawabannya tetap berada pada ruang

Namun satu pesan kebudayaan terasa kuat: Batik Kitab Bakti mengajak manusia tidak hanya memakai warisan Nusantara, tetapi membaca, merawat, dan menghidupkannya.

Dari batik menuju laku, dari simbol menuju tindakan, dan dari manusia kembali kepada alam sebagai sumber kehidupan.
(Editor: Saidi Hartono Ketua Dewan Pembina/Penasehat DPD SERIKAT PRAKTISI MEDIA INDONESIA) Bogor Raya.

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img