Tanah Yang Bersaksi

Tanah Yang Bersaksi

Cerpen: oleh Ismilianto

Namanya Rania. Ia tidak pernah bercita-cita menjadi petani. Namun suatu hari, hidup membawanya pulang— ke tanah yang sunyi, ke kerja yang sepi pujian.

Ketika Rania dan suaminya, Ilham, memilih berkebun, rumah orang tuanya tidak gaduh. Yang ada justru diam.

Diam yang panjang. Diam yang menekan. “Apa tidak ada kerja lain?” Itu saja.

Tidak larangan. Tidak doa. Rania tahu, ada cinta di balik kata itu. Tapi cinta yang diliputi rasa takut.

Setiap kali ragu, Rania teringat firman Allah: “Allah menjadikan bumi sebagai tempat menetap bagimu.” (QS. An-Naml ayat 61)

Ia menguatkan diri: Jika bumi dijadikan tempat hidup, mengapa menanam di atasnya dianggap hina?

Di kebun kecil pinggir desa, Rania bekerja dalam diam. Tangannya kotor. Punggungnya pegal.

Namun lisannya basah dengan shalawat. Ia teringat sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau bercocok tanam, lalu hasilnya dimakan manusia, burung, atau binatang, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ia menanam bukan untuk membuktikan pada manusia, tapi untuk menenangkan hatinya sendiri.

Orang tuanya belum berubah. Doa restu belum terdengar. Namun Rania tak berani membantah.

Ia takut pada ayat ini: “Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’.” (QS. Al-Isra’ ayat 23)

Jika pilihan hidupnya membuat orang tua berat, maka ia memilih lebih banyak bakti di sisi lain.

Ia menyapu halaman rumah orang tua. Menyiapkan air minum. Mencium tangan lebih lama.

Setiap sore, di gubuk bambu, Rania berdoa lirih: “Ya Allah, Engkau Maha Membolak-balikkan hati.

Jika hati orang tuaku belum lapang, jangan Kau jadikan hatiku sempit. Musim kemarau datang. Sebagian tanaman mati. Sebagian tumbuh keras, bertahan.

BACA JUGA  BAP DPD RI RDPDU Terkait Tanah dan Rumah Dengan PT KAI

Suatu hari ibunya sakit. Rania datang membawa sayur hasil kebunnya. Bukan yang terbaik.

Tapi yang pertama dipetik pagi itu. Ibunya memakan tanpa komentar.

Lalu berkata pelan, “Tanah itu… susah, ya?” Rania hanya mengangguk.

Malam itu, ia teringat kisah sahabat Nabi SAW yang bekerja dengan tangannya sendiri.

Rasulullah SAW pernah mencium tangan Sa‘ad bin Mu‘adz yang kasar, lalu bersabda: “Ini adalah tangan yang dicintai Allah.” (HR. Thabrani)

Beberapa bulan kemudian, ayahnya ikut ke kebun. Tidak membantu. Hanya berdiri lama.

Lalu ayahnya berkata, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri: “Tanah ini dipukul, diinjak, dicangkul…tapi tetap memberi.”

Malamnya, ayah Rania mengetuk pintu kamar. Suaranya bergetar. “Ayah baru paham satu ayat hari ini.”

Ia mengutip pelan: “Dan bumi itu Dia hamparkan untuk makhluk-Nya.” (QS. Ar-Rahman ayat 10)

Ayahnya menunduk. “Selama ini ayah takut kamu susah. Padahal yang ayah lakukan justru memberatkan hatimu.”

Tangis ayahnya pecah. Rania tak menjawab. Ia hanya memeluk.

Dan di situlah ia sadar, dengan dada bergetar: Allah tidak selalu melembutkan hati orang tua dengan perlawanan anaknya.

Kadang Allah menunggu sampai anak itu menjadi tanah: dipijak, dilukai, tapi tetap memberi.

Sejak malam itu, doa orang tua turun tanpa diminta. Bukan doa yang keras. DOaTapi doa yang membuat langit mendengar.

“Semoga tanah yang kau jaga…menjadi saksi bahwa kau tidak durhaka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img