Menjaga Wibawa Guru di Tengah Sensitivitas Pendidikan

Menjaga Wibawa Guru di Tengah Sensitivitas Pendidikan

Oleh: Ismilianto

Perdebatan publik mengenai posisi guru kembali mengemuka setelah sebuah kasus disiplin di sekolah menyedot perhatian luas.

Pernyataan tegas aparat penegak hukum yang menyatakan perkara tersebut tidak dilanjutkan justru memunculkan polemik.

Sebagian kalangan menilai pembelaan terhadap guru berpotensi membuat pendidik bersikap arogan. Pandangan ini perlu dilihat secara lebih jernih dan proporsional.

Dalam praktik pendidikan, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar mata pelajaran, tetapi juga pendidik karakter.

Teguran terhadap pelanggaran tata tertib sekolah merupakan bagian dari proses pendidikan, selama dilakukan secara wajar, beradab, dan tidak melampaui batas.

Persoalan muncul ketika tindakan mendidik langsung dipersepsikan sebagai bentuk kekerasan, tanpa melihat konteks, niat, serta proses yang telah ditempuh sebelumnya.

Pendidikan sejatinya adalah kerja kolaboratif antara sekolah dan keluarga. Ketika aturan sekolah diabaikan dan komunikasi antara guru serta orang tua tidak berjalan dengan baik, potensi konflik menjadi semakin besar.

Dalam kondisi seperti ini, menyederhanakan masalah dengan menempatkan guru sebagai pihak yang sepenuhnya salah justru berisiko melemahkan kewibawaan pendidikan itu sendiri.

Nilai tanggung jawab dalam mendidik juga menjadi fondasi etika sosial masyarakat Indonesia.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab lembaga formal, tetapi juga keluarga dan lingkungan: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa pembentukan karakter merupakan tugas bersama, bukan beban sepihak guru di sekolah.

Dalam relasi sosial, penghormatan terhadap peran pendidik menjadi unsur penting keberlangsungan pendidikan.

Rasulullah SAW bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.” (HR. Tirmidzi)

BACA JUGA  Silent Majority, Dirty Vote & Parodi Politik

Penghormatan kepada guru tidak berarti menutup ruang evaluasi atau kritik. Namun penghormatan memberi ruang keadilan agar guru dapat menjalankan tugasnya tanpa rasa takut yang berlebihan.

Fakta di lapangan menunjukkan guru kerap berada dalam posisi rentan.

Ketika terjadi persoalan dengan peserta didik, guru sering kali menjadi pihak pertama yang disalahkan, bahkan sebelum dilakukan klarifikasi secara menyeluruh.

Jika situasi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan lahir budaya pendidikan yang defensif, di mana guru enggan menegur atau meluruskan karena khawatir menghadapi tekanan sosial maupun hukum.

Sejarah pendidikan menunjukkan bahwa negara dengan sistem pendidikan yang kuat adalah negara yang menempatkan guru pada posisi terhormat dan terlindungi.

Teguran dan disiplin dipahami sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sebagai bentuk permusuhan.

Banyak tokoh besar lahir dari lingkungan pendidikan yang tegas namun beradab, di mana guru diberi kepercayaan untuk menjalankan perannya secara utuh.

Membela guru dalam konteks ini tidak identik dengan membenarkan segala tindakan pendidik. Setiap bentuk kekerasan tetap harus ditolak dan ditindak sesuai hukum.

Namun melindungi kewenangan guru yang bertindak proporsional dan beritikad baik merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas pendidikan.

Pada akhirnya, perdebatan tentang membela guru seharusnya diarahkan pada upaya memperkuat sistem pendidikan secara menyeluruh.

Guru bukan lawan orang tua, dan sekolah bukan ruang kriminalisasi. Pendidikan membutuhkan keadilan, dialog, dan kepercayaan agar mampu melahirkan generasi yang berilmu dan berkarakter.

Menjaga kewibawaan guru berarti menjaga arah pendidikan. Dan menjaga pendidikan berarti menjaga masa depan bangsa.

Profil Singkat Penulis
Ismilianto adalah mantan guru SMA dan pemerhati pendidikan. Aktif menulis opini tentang pendidikan karakter, peran guru, dan kebijakan pendidikan di Indonesia.

BACA JUGA  Kelurahan Kubu Gulai Bancah Persiapkan Diri Untuk Tingkat Nasional Regional Sumatera

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img