Retak di Balik Kesembuhan
Rina dan Arif tidak pernah berniat mencari jalan pintas.
Mereka hanya ingin orang tua mereka kembali sehat.
Namun keputusasaan sering membuat manusia berani melangkah ke tempat yang seharusnya tidak dimasuki.
Rumah itu sunyi.
Aroma asing mengambang di udara.
Setelah “terapi”, lelaki itu berkata pelan,
“Masalah kalian bukan di tubuh orang tua, tetapi di hubungan kalian.”
Sejak hari itu, benih curiga tumbuh.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan:
Ada seorang sahabat yang datang kepada dukun.
Nabi bersabda, shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari (HR. Muslim).
Namun Rina dan Arif belum tahu. Mereka kembali.
Dan pulang membawa jarak yang semakin lebar.
Malam itu, Rina terisak.
Ia teringat kisah para tukang sihir Fir’aun.
Dulu mereka hidup dari sihir.
Namun ketika melihat kebenaran Nabi Musa, mereka sujud dan berkata,
“Kami beriman kepada Tuhan Musa dan Harun.” (QS. Thaha: 70)
Mereka rela disiksa, tetapi tidak kembali kepada kesyirikan.
“Kalau mereka bisa berhenti,” bisik Rina,
“mengapa kita masih ragu?”
Arif akhirnya mencari tahu.
Ia mendapati banyak keluarga runtuh setelah melewati tempat itu.
Ia memeluk istrinya.
“Lebih baik kita sakit, daripada iman kita mati.”
Mereka pun berhenti.
Dan sejak itu, mereka belajar dari kisah Fudhail bin ‘Iyadh,
seorang perampok yang bertaubat ketika mendengar ayat:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)
Dari perampok menjadi wali.
Maka mereka yakin: Allah mampu mengubah segalanya.
Dan mereka akhirnya paham, tidak semua yang disebut kesembuhan adalah rahmat. Sebagian adalah ujian iman.
—
Semoga cerpen ini menjadi cahaya peringatan. Aamiin.



