spot_img

Tajuk Rencana: Orang Bingung Mencari Panggung: Jabatan Semu dan Keruwetan Moral di Balik Dunia Galian C

Bingung
Gambar: Bayu Poenjul sedang bingung. Foto. Dok. Org

Tajuk Rencana: Orang Bingung Mencari Panggung: Jabatan Semu dan Keruwetan Moral di Balik Dunia Galian C

Oleh: Muhamad Sarman.

Fenomena Orang bingung Mencari Panggung, ada seseorang yang mengaku- ngaku memiliki posisi strategis, jejaring kekuasaan, dan pengaruh besar, fenomena yang demikian itu bukanlah hal baru dalam kehidupan sosial kita.
Dunia pertambangan galian C, yang sejak lama dikenal sangat dekat dengan persoalan perizinan dan relasi kuasa, menjadi lahan subur bagi lahirnya klaim-klaim semacam itu. yang bisa membuat orang bingung. 

Menurut sumber, Sebut saja orang tersebut namanya Bayu Poenjul, asal Boyolali, sebuah potret sosial yang merepresentasikan problem lebih luas dari sekadar kisah personal.

Bayu Poenjul kerap mengaku-ngaku sebagai pelaku utama di dalam dunia galian C. tak tanggung-tanggung, Ia menyebut dirinya sebagai pemilik alat berat, penghubung modal, bahkan Direktur Operasional di salah satu PT.

Klaim Pengakuan tersebut sering dibarengi cerita tentang kedekatannya dengan sejumlah pejabat dan kemudahan mengurus berbagai urusan tambang.

Tidak berhenti disitu ada sumber yang menerangkan tentang Bayu Poenjul bisa tembus mengerjakan Proyek jalan tol Solo-Jogja hanya bermodal Rp 2.500.000

Dalam masyarakat yang masih menempatkan jabatan sebagai simbol kebenaran, klaim seperti ini kerap diterima mentah-mentah tanpa adanya verifikasi.

Namun jabatan, sejatinya, bukanlah sekadar titel. Ia adalah amanah yang melekat pada tanggung jawab hukum, etika, dan profesionalisme.

Ketika sebuah jabatan hanya hadir dalam cerita, tanpa aktivitas operasional yang jelas, tanpa jejak kerja nyata, maka yang terjadi adalah ilusi struktural.

Jabatan hanya dipakai sebagai alat legitimasi sosial, bukan sebagai sarana pengabdian atau pengelolaan usaha yang benar.

Di sisi lain, orang yang sama-sama bergelut dalam dunia tambang merasa risih dengan klaim Bayu, dan sering disebut *Wong Ruwet” muncul pula kesaksian sosial yang sangat kontras dengan kenyataan citra jabatan tersebut.

BACA JUGA  Keluarga Korban Membawa Duka, Akibat Longsor Penambangan di Cirebon

Bahkan tidak sedikit sumber yang menguatkan penyebutsn Bayu adalah sosok orang ruwet, ruwet dalam hidup, ruwet dalam perilaku.

Ada pula sumber yang mengatakan ia sering tina-tini, bertindak dan berbicara tidak pada tempatnya, terutama dalam pergaulan dunia tambang.

Sikap ini bukan sekadar persoalan moral personal, tetapi mencerminkan ketidaksinkronan antara klaim jabatan dan etika yang seharusnya menyertainya.

Redaksi memandang, disinilah persoalan menjadi serius. Ketika seseorang mengaku sebagai direktur, tetapi gagal menunjukkan kedewasaan sikap, integritas, dan tanggung jawab sosial, maka jabatan tersebut kehilangan makna publiknya.

Dunia usaha tidak hanya diukur dari modal dan aset, tetapi juga dari kepercayaan. Dan kepercayaan dibangun pertama-tama dari perilaku.

Kini, Bayu dikabarkan sedang kolep—jatuh secara ekonomi dan sosial. Usaha yang diklaim tak terbukti bertahan. Jejaring yang sering disebut menghilang.

Omongannya kian ngelantur seperti orang bingung sedang mencari panggung, justru memperlihatkan rapuhnya fondasi yang selama ini ia dibangun.

Ini menjadi pelajaran penting bagi siapa saja bahwa klaim orang hebat, tanpa dasar omongan besar hanyalah menunda kejatuhannya, bukan keberhasilannya.

Tajuk rencana ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi individu tertentu, melainkan untuk menyoroti penyakit sosial yang masih mengakar: budaya kagum pada klaim, bukan pada bukti; hormat pada jabatan, bukan pada etika. Selama masyarakat enggan bertanya dan sistem membiarkan ruang abu-abu, figur-figur dengan jabatan semu akan terus bermunculan.

Lebih jauh, fenomena seorang Bayu Poenjul sedang bingung mencari panggung ini menjadi kritik bagi tata kelola sektor-sektor strategis, termasuk pertambangan galian C. Transparansi perizinan, keterbukaan data perusahaan, dan literasi hukum masyarakat harus diperkuat.

Redaksi memandang persoalan Bayu poenjul ini dalam dua sisi, bisa playing victim, bisa juga Bayu Poenjul benar benar positif sedang dalam proses mencari panggung berangkat dari keterpurukannya.

BACA JUGA  Hari Pertama, Kapolres Landak Cek Ruang Kerja dan Tahanan

Sumber yang berpihak pada Bayu Poenjul menjelaskan terkait sebutan “Bayu Wong Ruwet” Katanya di tanggapi dengan gaya cengengesan saja, “Lihat saja segalanya akan indah pada waktunya” Sumber menirukan ucapan Bayu Poenjul.

Jabatan direktur bukan rahasia negara; ia bisa dan harus diverifikasi. PT bukan sekadar papan nama; ia harus memiliki aktivitas nyata.

Pada akhirnya, tajuk rencana ini menegaskan satu hal: jabatan tanpa etika adalah kehampaan, dan klaim tanpa bukti adalah keruwetan yang menunggu runtuh.

Masyarakat berhak bersikap kritis, dan negara berkewajiban memastikan bahwa dunia usaha berjalan di atas fondasi hukum dan moral, bukan sekadar cerita dan pengakuan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img