PENYESALAN TAK BERTEPI DI BAWAH TANAH
Tanah itu akhirnya menutup rapat. Langkah manusia menjauh satu per satu.
Doa terakhir menggantung di udara, lalu sunyi mengambil alih segalanya.
Di sanalah mereka kini—para penyogok, para pembeli keputusan, para penukar kebenaran dengan angka.
Tak ada lagi jas rapi. Tak ada map cokelat. Tak ada senyum penuh siasat.
Yang tersisa hanya tubuh kaku dan kesadaran yang tak ikut mati. Mereka dulu mengira kematian adalah tidur panjang.
Ternyata mati adalah terjaga tanpa kelopak mata untuk ditutup. Tanah menekan dari segala arah. Gelap memeluk tanpa jarak.
Dan suara itu datang—bukan dari luar, melainkan dari dalam dada sendiri.
“Untuk apa semua itu?”
Pertanyaan itu menghantam tanpa henti. Tak bisa ditunda. Tak bisa disuap.
Barulah mereka ingat firman Allah yang dulu sering terdengar, namun jarang singgah di keputusan:
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil, dan jangan kalian menyuap para hakim.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat itu kini bukan lagi bacaan, melainkan kenyataan yang menyesakkan. Di dunia, mereka rajin bersujud. Sajadah selalu terbentang.
Namun di ruang keputusan, takut kepada Allah selalu kalah oleh takut kehilangan jabatan.
Padahal Rasulullah SAW telah memperingatkan tegas:
“Laknat Allah atas pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kata laknat itu kini terasa hidup. Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai keadaan.
Mereka ingin berteriak, namun tak ada suara. Mulut terkunci. Tangan terikat kain kafan. Hanya hati yang terus menjerit dalam diam.
Di saat itulah penyesalan datang tanpa pintu keluar. Mereka ingin kembali ke dunia— bukan setahun, bukan sehari, bahkan sedetik pun cukup.
Sekadar untuk menolak satu amplop. Sekadar untuk berkata tidak. Sekadar untuk memilih takut kepada Allah daripada takut pada manusia.
Namun firman itu kembali menghantam:
“Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)
Tak ada jalan kembali. Tak ada revisi keputusan. Di kegelapan itu, mereka teringat sebuah kisah yang dulu pernah didengar sekilas— namun diabaikan.
Tentang Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang mematikan lampu negara ketika urusan pribadi dibicarakan, karena takut cahaya itu menjadi saksi penyalahgunaan amanah.
Dulu mereka tersenyum mendengarnya. Kini kisah itu berubah menjadi pisau yang mengiris penyesalan.
“Seandainya aku seperti dia…” Namun penyesalan tak lagi bernilai.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Sesungguhnya kubur itu adalah taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.” (HR. Tirmidzi)
Dan mereka kini tahu, mereka berada di sisi yang mana. Harta haram tak ikut dikubur. Jabatan tak ikut dikafani.
Namun dosanya menemani tanpa jarak. Di sanalah mereka mengerti, bahwa dosa yang dianggap kecil di dunia dapat menjelma menjadi azab yang panjang.
Bahwa ibadah tanpa takut kepada Allah tak mampu menyelamatkan saat tirai dunia ditutup.
Dan penyesalan yang paling pedih adalah ini: iman masih mereka kenal, ayat masih mereka hafal, namun keberanian untuk jujur tak pernah mereka pilih saat hidup masih diberi kesempatan.
Tanah tetap sunyi. Waktu terus berjalan. Dan penyesalan itu— tak bertepi.



