Pengentalan Darah Bisa Terjadi Akibat Virus COVID-19

1
94
Pengentalan darah
Credit Foto/newseu.cgtn.com
Akhir-akhir ini ditemukan bahwa penderita COVID-19 bisa mengalami pembekuan atau pengentalan darah. Padahal sebelumnya gejala yang umum ditunjukkan oleh infeksi virus COVID-19 adalah batuk dan sesak napas.

Penelitian terkait dampak jangka pendek dan infeksi virus COVID-19 terhadap kesehatan, termasuk pengentalan darah, terus dilakukan. Beberapa penelitian mengungkap bahwa infeksi COVID-19 dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang lebih serius. Salah satunya adalah bloot clot atau pembekuan darah.

Darah yang membeku ini dapat menjadi penghalang bagi darah yang kaya oksigen menuju berbagai organ penting dalam tubuh, termasuk paru-paru dan otak. Selain di organ paru-paru, pengentalan darah pada penderita COVID-19 juga dapat muncul di kaki sebagai trombosis vena dalam (DVT).

Bagaimana Virus COVID-19 Menyebabkan Pengentalan Darah?

Saat ada luka, gumpalan darah akan terbentuk dan membantu menghentikan perdarahan. Gumpalan darah inilah yang dapat menyumbat luka, sehingga membantu proses pemulihan.

Namun, terkadang pengentalan darah dapat terbentuk tanpa adanya cedera atau terjadi di dalam pembuluh darah. Kondisi ini berbahaya karena gumpalan darah dapat membatasi aliran darah yang akhirnya menimbulkan komplikasi, seperti stroke dan serangan jantung.

Pengentalan darah juga dapat dialami oleh penderita COVID-19. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan bahwa penderita COVID-19 bisa mengalami komplikasi yang berkaitan dengan pengentalan darah.

Meski belum diketahui secara pasti, ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko penderita COVID-19 mengalami pengentalan darah.

Beberapa penilitian mengungkap bahwa cara virus Corona menginfeksi tubuh seseorang bisa memicu peradangan pada pembuluh darah, sehingga menyebabkan terbentuknya gumpalan darah.

Selain itu, pengentalan darah juga diduga terjadi akibat respons sistem kekebalan tubuh yang overaktif memerangi virus yang masuk ke tubuh, sehingga meningkatkan aktivitas sel-sel penting dalam memulai proses pembekuan. Oleh karena itu, hal ini berisiko meningkatkan pengentalan darah pada penderita COVID-19.

BACA JUGA  4 Makanan Pemicu Usus Buntu yang Perlu Anda Waspadai

Penelitian lain menemukan bahwa seseorang yang memiliki kondisi medis tertentu, seperti penyakit jantung, diabetes, dan obesitas, lebih berisiko mengalami pembekuan darah jika terinfeksi virus penyebab COVID-19.

Mengenal D-dimer pada Penderita COVID-19

Proses pengentalan darah dapat terjadi karena berbagai hal, termasuk akibat infeksi virus Corona. Infeksi virus Corona menyebabkan peradangan sistemik dan badai sitokin pada penderita COVID-19. Kedua hal ini bisa menyebabkan gangguan pembekuan darah yang meningkatkan kadar D-dimer.

D-dimer merupakan bagian protein yang membantu proses pembekuan atau penggumpalan darah. Jika kadar D-dimer terus meningkat pada penderita COVID-19, risiko mengalami sumbatan akibat penggumpalan darah juga semakin tinggi.

Awalnya, kadar D-dimer pada penderita COVID-19 tidak masuk dalam tes rutin yang perlu dijalani, sehingga sering ditemukan kasus yang sudah fatal. Oleh karena itu, kini tes kadar D-dimer direkomendasikan untuk penderita COVID-19, terutama yang menunjukkan gejala berat, berusia lanjut, ibu hamil, dan memiliki penyakit penyerta.

Tes D-dimer dilakukan dengan mengambil sampel darah penderita COVID-19. Kadar maksimal D-dimer adalah 500 ng/ml. Jika kadar D-dimer melebihi batas normal, pasien perlu ditangani dengan cepat dan tepat guna mencegah terjadinya komplikasi akibat sumbatan pembuluh darah di organ penting, termasuk paru-paru.

Cara Mengatasi Pengentalan Darah akibat COVID-19

Saat ini, kadar D-dimer menjadi indikator keparahan COVID-19 penderita. Bila kadar D-dimer melebihi batas normal, dokter dapat meresepkan obat-obatan pengencer darah (antikoagulan). Obat ini akan melarutkan gumpalan darah yang akibat peradangan pada penderita COVID-19.

Perlu diingat bahwa obat-obatan pengencer darah harus dikonsumsi sesuai resep dokter. Pemberian yang tepat sesuai resep dokter dapat menormalkan kadar D-dimer dan mencegah komplikasi akibat COVID-19.

Meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut, obat-obatan antikoagulan dapat mengatasi pneumonia berat akibat infeksi virus Corona dan penderita COVID-19 dengan kadar D-dimer tinggi.

BACA JUGA  Anodontia Tidak Berbahaya, Bisa Turunkan Rasa Percaya Diri 

Untuk mencegah mata rantai penularan COVID-19, pastikan Anda selalu patuhi protokol kesehatan yang berlaku, yaitu menuci tangan, mengenakan masker dobel, selalu menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.