spot_img

Menjaga Desa dari Provokasi: Pentingnya Peran Bersama Pemdes, BPD, dan Tokoh Masyarakat

Provokasi
Gambar Gapuro Masuk Wilayah Desa Nepen. Foto. Dok. Msar

Menjaga Desa dari Provokasi: Pentingnya Peran Bersama Pemdes, BPD, dan Tokoh Masyarakat

Redaksisatu.id – Desa adalah rumah kita bersama. Di sanalah kita nilai saling percaya, saling menghormati, dan gotong royong tumbuh dan diwariskan.

Karena itu, setiap pesan yang hadir di ruang publik di desa kita tercinta desa Nepen—termasuk spanduk—harus dipastikan membawa ketenangan, bukan kegelisahan.

Belakangan, warga Desa Nepen dikejutkan dengan munculnya spanduk tanpa identitas pemasang dan dengan narasi yang multi-tafsir. Kalimatnya singkat, namun dampaknya bisa panjang jika ditafsirkan secara liar.

Spanduk Anonim Bukan Aspirasi yang Mendidik

Menyampaikan pendapat adalah hak warga negara. Namun dalam menyampaikan aspirasi yang sehat sebaiknya disampaikan secara terbuka, jelas, dan bertanggung jawab.

Spanduk tanpa identitas dan tanpa penjelasan justru membuka ruang kepada warga terkait provokasi, prasangka, dan saling curiga antarwarga.

Jika memang ada niat “mengawal kasus”, maka yang dibutuhkan bukan simbol anonim, melainkan penjelasan yang terang benderang: siapa yang mengawal, apa yang dikawal, dan melalui mekanisme apa.

Jangan Biarkan Desa Terjebak Tafsir dan Kecurigaan

Yang meski menjadi perhatian, Pesan yang samar sering kali lebih berbahaya daripada kritik yang keras. Karena ia mendorong warga untuk menafsirkan sendiri-sendiri.

Multi tafsir yang akan timbul Ada yang merasa dituding, ada yang merasa diancam, ada pula yang ikut menyebarkan dugaan tanpa dasar.

Di titik inilah, kedewasaan warga diuji. Tidak semua yang terpampang di ruang publik itu harus segera dipercaya. Tidak semua yang mengatasnamakan “kawal kasus” benar-benar bekerja untuk kepentingan desa.

Peran Penting BPD dan Tokoh Masyarakat

Dalam situasi seperti ini, BPD dan para tokoh masyarakat memiliki peran strategis dan moral yang sangat besar. Terlebih bagi tokoh-tokoh yang selama ini dikenal sering berinteraksi dan dekat dengan pemerintahan desa.

BACA JUGA  Diduga Korupsi DD Rp367.344.000, Masyarakat Desak Likui Mundur dari Kades Dangkan Kota

Kedekatan itu semestinya menjadi jembatan penyejuk, bukan alasan untuk diam. BPD dan tokoh masyarakat diharapkan: Hadir di tengah warga untuk memberi penjelasan yang menenangkan.

Mengajak duduk bersama semua pihak kembali ke jalur musyawarah, Menjadi penyangga agar isu tidak berkembang menjadi provokasi.

Diamnya tokoh panutan sering ditafsirkan macam-macam oleh warga. Sebaliknya, kehadiran mereka—walau hanya untuk mengajak tenang dan berpikir jernih—dapat meredam kegaduhan sejak dini.

Musyawarah Adalah Jalan Terhormat Desa

Desa memiliki mekanisme yang jelas dan bermartabat: musyawarah desa, BPD, dan forum warga. Jika ada persoalan, jalur itulah yang harus dihidupkan. Bukan tekanan simbolik, bukan pesan tanpa penanggung jawab.

Desa yang hidup, desa yang komunikatif dan kuat bukan desa yang bebas dari kritik, tetapi desa yang mampu mengelola kritik tanpa saling melukai.

Menjaga Nepen adalah Tanggung Jawab Bersama

Untuk menjaga desa tetap wibawa Menjaga Desa Nepen dari provokasi bukan hanya tugas kepala desa atau perangkat desa. Ini adalah tugas bersama: Pemdes bersikap terbuka dan tegas, BPD menjalankan fungsi pengawasan dan penyejuk, Tokoh masyarakat memberi teladan kedewasaan, dan Warga tidak mudah terprovokasi.

Mari kita rawat Desa Nepen dengan akal sehat dan hati yang jernih. Dengan dialog, bukan prasangka. Dengan keterbukaan, bukan anonimitas. Karena desa yang rukun adalah warisan terbaik yang bisa kita jaga bersama. Salam Nalar Akal Waras.(MSar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img