Langit Emas yang Menangis, Saat Tanah Leluhur Tak Lagi Menjadi Rumah

Langit Emas yang Menangis, Saat Tanah Leluhur Tak Lagi Menjadi Rumah

Oleh: Zoelnasti

Langit Emas Ratatotok sore itu tak lagi memantulkan warna biru yang menenangkan. Debu tanah merah menggantung di udara, menutupi cahaya matahari yang perlahan tenggelam.

Dari kejauhan, lubang-lubang besar menganga seperti luka yang tak pernah sempat disembuhkan.

Di teras rumah papan yang mulai rapuh, Kakek Daud duduk tanpa banyak bicara. Tatapannya tertuju ke sungai yang mengalir tak jauh dari rumahnya.

Sungai itu pernah menjadi sumber kehidupan. Airnya jernih, ikan berenang bebas, dan anak-anak desa bermain tanpa rasa takut.

Kini semuanya berubah. Air berwarna kelabu, berbau menyengat, dan tak lagi menyimpan kehidupan.

Kakek Daud mengusap kepala cucunya yang sejak lama menderita sakit. Tatapannya semakin kosong.

“Dulu tanah ini memberi kami kehidupan. Sekarang tanah ini justru mengambilnya kembali,” bisiknya lirih.

Suara mesin berat memecah keheningan. Puluhan tromol terus berputar tanpa henti, memisahkan butiran emas menggunakan merkuri. Orang-orang yang mengoperasikannya bukan wajah-wajah yang dikenalnya.

Mereka berbicara dengan bahasa asing, tetapi bergerak bebas seolah tanah itu memang milik mereka.

Hari demi hari, aktivitas itu semakin meluas.

Kabar yang sampai ke kota membuat banyak orang terdiam. Lebih dari separuh wilayah di kawasan itu disebut telah dikuasai dengan cara-cara yang tidak benar.

Emas yang seharusnya menjadi kekayaan seluruh bangsa dikumpulkan dalam karung-karung besar, lalu dibawa pergi.

Di balik semua itu, beredar cerita tentang pejabat yang memilih diam. Ada yang disebut memberi jalan. Ada pula yang dikabarkan menerima bagian dari hasil yang diperoleh.

Uang bernilai miliaran rupiah berpindah tangan, sementara lubang-lubang bekas galian tetap dibiarkan terbuka, menjadi ancaman bagi siapa saja.

BACA JUGA  Kapur Yang Tak Lagi Putih

Sesekali suara sirene terdengar, kendaraan aparat datang memasuki kawasan itu. Namun yang menjadi sasaran hanyalah gubuk-gubuk kecil milik warga miskin.

Bangunan besar yang berdiri rapi tetap tak tersentuh. Gudang-gudang milik pemodal asing tetap berdiri kokoh seolah tidak terlihat.

Pertanyaan itu terus mengganggu pikiran Kakek Daud.

“Apakah hukum hanya mampu melihat ke satu arah?”

Ia tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Keinginannya sederhana.

Ia ingin sungai kembali jernih.

Ia ingin tanah berhenti amblas agar rumah anak cucunya tetap berdiri.

Ia ingin mereka yang diberi amanah benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, bukan kepada kepentingan yang mengorbankan masa depan.

Malam turun perlahan.

Langit kehilangan bintang. Asap dan debu menutupi cahaya yang seharusnya menerangi desa.

Namun di balik gelap itu, Kakek Daud masih menyimpan harapan.

Harapan agar para pemimpin negeri tidak menutup mata terhadap penderitaan rakyat. Harapan agar kekayaan bangsa tidak lagi dirampas di depan masyarakat yang hanya bisa menyaksikan.

Baginya, emas bukan sekadar logam berharga.

Yang paling berharga adalah tanah yang tetap subur, sungai yang tetap bersih, udara yang tetap layak dihirup, serta anak cucu yang dapat tumbuh sehat di tanah kelahirannya sendiri.

Ia percaya, keadilan akan kembali hidup jika hukum ditegakkan tanpa membedakan siapa yang berdiri di hadapannya.

Sebab tanah, langit, dan seluruh kekayaan yang tersimpan di dalamnya bukan milik segelintir orang.

Semuanya adalah titipan yang harus dijaga bersama.

Dan selama masih ada orang yang berani berharap, selalu ada kesempatan bagi negeri ini untuk menemukan kembali cahaya yang sempat hilang di bawah langit emas yang menangis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img