spot_img

LAMPU DI LIANG LAHAT

LAMPU DI LIANG LAHAT

Ia meninggal dalam sunyi. Tidak ada sirene. Tidak ada tangisan histeris. Hanya azan Subuh yang baru selesai ketika tanah mulai menutup wajahnya.

Namanya Harun. Orang kampung mengenalnya sebagai lelaki biasa. Bukan ustaz. Bukan tokoh. Bukan orang kaya.

Ia hanya sering terlihat berjalan pelan ke masjid saat malam masih berat.

“Ngapain capek-capek bangun malam?”,  begitu orang-orang sering bertanya.

Harun hanya tersenyum.  “Ada gelap yang tidak bisa diterangi siang,” jawabnya pendek.

Malam pertama di kubur datang tanpa aba-aba. Gelap. Bukan gelap seperti mati lampu.

Ini gelap yang menekan dada, membuat napas terasa sempit. Tanah mulai mendekat. Himpitan perlahan membuat Harun ingin berteriak.

Lalu… cahaya kecil menyala di sisi kubur. Bukan matahari. Bukan lampu. Cahaya itu berdiri seperti sosok.

“Apa ini?” tanya Harun gemetar.

“Aku tahajudmu,” jawab cahaya itu lembut.

“Kau bangun saat dunia tidur. Aku datang menemanimu.” Himpitan berhenti.

Tiba-tiba kubur terasa luas, namun sunyi. Sunyi yang membuat jiwa menangis.

Harun duduk sendiri. Lalu terdengar suara… bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Pelan. Menenteramkan.

Suaranya memenuhi ruang. “Aku bacaan Qur’anmu,” kata suara itu.

“Kau sering membacaku meski hanya beberapa ayat. Aku tidak meninggalkanmu sekarang.” Harun terisak.

Tiba-tiba muncul makhluk-makhluk menjijikkan dari tanah. Harun memejamkan mata.

Namun makhluk-makhluk itu berhenti. Mundur. Lalu lenyap.

“Apa yang mengusir mereka?” tanya Harun.

“Sedekahmu,” jawab suara lain. “Kau memberi tanpa banyak bicara. Aku menjadi pelindungmu.”

Dua sosok tinggi datang. Wajahnya tegas. Suaranya mengguncang. “Siapa Tuhanmu?”

Jantung Harun berdegup keras. Namun sebelum takut menguasai, lisannya bergerak sendiri. “La ilaha illallah…” Kalimat itu keluar tanpa dipaksa.

Tanpa ragu. Sosok itu mengangguk. “Apa yang membuatmu tenang?” tanya mereka.

BACA JUGA  DOA YANG TERHENTI DI LANGIT

Harun menangis. “Karena dulu aku takut mati tanpa persiapan,” jawabnya lirih.

Di atas tanah, anaknya berdiri di tepi kubur. Matanya merah. Tangannya gemetar.

Ia teringat ayahnya yang sering bangun malam, yang jarang bicara, yang lebih sering menunduk daripada menyombongkan diri.

“Maafkan aku, Yah…” bisiknya. “Aku sering menganggapmu berlebihan.”

Angin pagi berhembus pelan. Dan jauh di bawah tanah, Harun tersenyum.

Kubur itu tidak gelap. Tidak sempit. Tidak sepi. Karena ia membawa lampu sejak masih hidup.

Cerpen: oleh Ismilianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img