spot_img

JIKA KALIAN MASIH INGAT JALAN PULANG

Jika Kalian Masih Ingat Jalan Pulang

Cerpen: oleh Ismilianto

Pada suatu sore yang hampir habis, di beranda sebuah rumah tua yang catnya mulai memudar, duduklah seorang lelaki sepuh dengan segelas kopi yang sudah dingin.

Angin menggeser daun-daun kering di halaman, seperti mengulang langkah-langkah lama yang pernah lewat di tempat itu.

Rumah itu dulu ramai. Setiap pagi dipenuhi suara tawa, langkah tergesa, dan mata-mata anak muda yang menyimpan mimpi besar.

Kini sepi. Bukan karena ditinggalkan, tetapi karena semua telah pergi— menekuni kesuksesan hidup masing-masing.

Lelaki itu menatap dinding, di sana masih tergantung papan kecil bertuliskan kalimat yang hampir tak terbaca:

“Belajarlah sungguh-sungguh, raihlah mimpi-mimpi besarmu, lalu bersandarlah pada Tuhan.”

Ia tersenyum, lalu matanya basah. Satu per satu wajah mereka muncul dalam ingatannya. Anak-anak yang dulu datang dengan seragam abu-abu, tas tipis, dan hati yang kadang rapuh.

Ada yang sering tertidur di kelas karena membantu orang tua, ada yang diam-diam menangis karena merasa bodoh, ada pula yang keras kepala tapi hatinya lembut.

Sekarang, kabar tentang mereka sering singgah lewat cerita orang lain.

Ada yang menjadi pejabat di pemerintahan, ada kepala sekolah, ada yang pengusaha, ada yang doktor, ada yang dikenal banyak orang.

Nama-nama mereka harum.

Prestasi mereka tinggi.

Namun sore itu, lelaki sepuh itu tak mengingat gelar.

Ia mengingat cara mereka dulu menunduk saat meminta maaf, cara mereka berbagi bekal dengan teman pada jam istirahat, cara mereka belajar berdiskusi, bersabar, dan berlatih jujur— meski tak ada yang melihat.

Ia menghela napas panjang. “Semoga kalian tetap menjadi manusia,” bisiknya lirih, seolah berbicara pada angin.

BACA JUGA  Pedagang Siap Dipindahkan Menaruh Harapan di Rest Area Puncak

Bukan manusia yang selalu benar, tetapi manusia yang tahu caranya kembali menata kebaikan.

Bukan manusia yang selalu kuat, tetapi manusia yang selalu ingat ke mana harus bersandar saat terasa lelah.

Bukan manusia yang gemar dipuji, tetapi manusia yang diam-diam menjaga orang lain agar tak terluka dan tak tersakiti.

Kopinya sudah benar-benar dingin, tetapi hatinya justru hangat. Ia tahu, tak semua keberhasilan mereka terdengar sampai ke telinganya.

Ada keberhasilan yang bekerja dalam sunyi: yaitu sukses menahan diri untuk tidak sombong, memilih jujur saat bisa berbuat curang, tetap memberi saat tak ada yang meminta.

Langit mulai gelap. Lelaki itu berdiri, melangkah masuk ke rumah, lalu berhenti sejenak di ambang pintu.

Ia menengadah, seperti menitipkan pesan tanpa kata:

“Jika kalian masih ingat jalan pulang, dunia tak akan kehilangan harapan.”

Lampu dipadamkan. Beranda kembali sunyi.

Namun dari tempat itu, kebaikan terus berjalan—tanpa nama, tanpa tanda tangan, tanpa perlu diketahui dari siapa ia berasal.

Pesan Moral:

Keberhasilan sejati bukan tentang sejauh mana kita pergi dan setinggi apa kita dikenal, tetapi seberapa utuh kita menjaga hati saat berada di puncak.

Mengingat asal-usul, merawat kerendahan hati, dan terus memilih kebaikan dalam keadaan apa pun adalah cara paling tenang untuk tetap menjadi manusia— meski dunia berubah dan waktu terus berjalan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img