
Bingung mencari panggung” adalah sebuah ungkapan idiomatik dalam bahasa Indonesia. Ini bukan ungkapan standar, melainkan frasa kiasan yang bisa digunakan dalam konteks tertentu. Seperti yang disuarakan Bayu dalam opininya.
Redaksisatu.id – Bayu, warga Boyolali, bingung mencari panggung, ia bukan orang baru di dunia tambang. Bertahun-tahun ia malang melintang di sektor yang keras, penuh risiko, dan sarat kepentingan.
Namun kini, Bayu berada di satu titik yang membingungkan: mencari jati diri sekaligus mencari panggung.
Dalam keterangannya ke media, Bayu menyebut dirinya terzholimi. Ia merasa dipinggirkan, disisihkan, bahkan dizalimi oleh keadaan dan kekuasaan.
Klaim yang di lontarkan oleh Bayu itu di ucapkan dengan nada lirih, seolah ia adalah korban dari sistem yang dulu justru membesarkannya.
Masalahnya, publik bertanya-tanya:
dizalimi oleh siapa, dan dalam konteks apa? Sebab ketika seseorang sudah lama hidup nyaman di dalam “kandang kekuasaan”, lalu tiba-tiba keluar sambil berteriak dizalimi, wajar jika rakyat kecil mengernyitkan dahi.
Bayu kini tampak seperti cah sing metu saka kandang, bingung golek panggung. Berjalan ke sana ke mari, menyapa media, menyusun narasi, berharap simpati.
Sayangnya, yang terlihat bukan keberanian melawan ketidakadilan, melainkan kegelisahan kehilangan peran.
Opini publik tidak mudah digiring. Rakyat sudah terlalu sering disuguhi drama elite yang berubah posisi, lalu mengaku korban. Jika benar dizalimi, buktikan dengan data dan keberpihakan yang nyata.
Jika hanya ingin panggung baru, publik sudah lelah menjadi penonton. Karena pada akhirnya, panggung sejati bukan milik mereka yang paling keras berteriak, tetapi milik mereka yang konsisten berpihak—bahkan saat lampu sorot dimatikan.( MSarman)



