
Redaksisatu.id – Pemasangan kabel wefi sering menjadi gunjingan masyarakat, “Tiang Ruwet”, dudu Wong sing ruwet, Warga kampung kadang sambil guyon nyeletuk, gara-gara banyak kabel tidak tertata rapi “Saiki sing ruwet dudu wongé, ning tiangé.”
Dalam budaya Jawa, istilah “wong ruwet” itu sejatinya bukan orang yang hidupnya susah, tapi orang yang pola pikir dan tindakannya semrawut, seperti kabel Wefi dan internet ora tertata, ora nganggo rasa lan aturan.
Wong ruwet itu biasanya sering bikin masalah, mencari-cari kesalahan, tapi tidak mau bertanggung jawab. Ironisnya, sekarang ini yang tampak ruwet justru “Tiangé.”
Tiang berdiri rapat-rapat, kabel melilit ke sana ke mari, tanpa tatanan, tanpa kejelasan, tanpa rasa estetika. Seolah mencerminkan satu hal: keruwetan bukan pada teknologinya, tapi pada tata kelolanya.
Kalau orang Jawa bilang, “Wong urip kuwi kudu nganggo tata, titi, lan tatas.” Hidup harus memakai aturan, ketelitian, dan ketuntasan. Namun “Tiang Ruwet” kok malah kebalikannya: Ora Tata, Ora Titi, Ora Tatas.
Maka wajar jika warga bertanya sambil guyon tapi serius: “Iki tiang internet apa tiang bingung?” karena dalam satu titik bisa berdiri lima tiang, bahkan lebih, dan masing-masing merasa paling berhak, paling perlu, tanpa mau berbagi.
Di setiap sudut kampung, di tengah perkampungan, hingga di sepanjang jalan desa dan kota, kini berdiri tidak beraturan ada yang miring kesegala arah, apa yang oleh warga disebut sebagai “Tiang Ruwet”.
Tiang-tiang ini bukan tiang listrik PLN, bukan pula tiang lampu penerangan jalan. Ia berdiri sendiri, penuh lilitan kabel wifi dan internet yang menjuntai ke mana-mana, kadang menyangkut genteng rumah warga, kadang melintang rendah di depan muka.
Masalahnya bukan sekadar tidak enak dipandang. Kabel yang terlalu rendah kerap menyangkut atap, talang, bahkan kendaraan tinggi. Belum lagi saat hujan dan angin kencang, warga hanya bisa waswas: aman atau tidak ini kabel tersebut?
Yang lebih menggelitik, hampir tidak ada warga baik warga desa maupun kota yang tahu, apakah pemasangan “Tiang Ruwet” ini punya izin resmi atau tidak.
Apakah ada aturan jarak aman dari rumah warga? Apakah ada standar ketinggian kabel? Apakah ada kewajiban merapikan dan merawat? Semua serba tidak jelas bagi masyarakat awam.
Ironisnya, kampung yang dulu rapi dan bersahaja, kini tampak seperti etalase kabel kusut. Estetika lingkungan seolah tidak lagi menjadi pertimbangan. Asal sinyal lancar, soal keindahan dan keselamatan bisa dikesampingkan.
Padahal, internet adalah kebutuhan zaman. Warga tidak anti teknologi. Anak-anak sekolah butuh internet, pedagang kecil memanfaatkannya untuk jualan, dan komunikasi makin mudah.
Namun, meski itu kebutuhan seharusnya tidak boleh mengorbankan keteraturan tata ruang dan keselamatan lingkungan.
Yang dibutuhkan warga sebenarnya sederhana: Aturan yang jelas dan terbuka, Pengawasan dari pemerintah desa dan daerah, Penataan yang rapi dan bertanggung jawab, Sosialisasi kepada warga sebelum pemasangan, Jangan sampai kampung hanya jadi “Lahan Tanam Tiang”,
Sementara warga hanya menjadi penonton yang tak tahu harus mengadu ke mana. Jika tiang listrik dan bangunan saja ada aturannya, mengapa tiang wifi seolah bebas berdiri di mana saja?
Sudah waktunya “tiang ruwet” ini dirapikan, bukan hanya kabelnya, tetapi juga aturan dan tanggung jawabnya. Karena kampung bukan hutan kabel, dan warga bukan objek semata.
Dalam guyonan khas Jawa, warga sering nyeletuk bahwa “ora nganggo tata, mung ngoyak bathi”, sebab yang dikejar seolah hanya sinyal nyala, sementara kerapian dianggap mengko dhisik.
Akibatnya, akeh sing nandur, ora ana sing ngopeni: tiang berdiri di mana-mana, tapi tak jelas siapa yang bertanggung jawab.
Di satu titik, tiang saling berdempetan, rebutan panggonan nganti kelangan tatakrama, seolah rumah warga boleh dijadikan jalur kabel tanpa permisi.
Padahal wong Jawa paham betul, ruwet kuwi dudu nasib, nanging akibat aturan yang ada tapi tak dijalankan, atau mungkin ana aturan kok ora ditindakake, ora ana aturan kok ditinggal.
Maka ketika omah wong didadekke dalan, dalan didadekke pasar, yang paling sering dikorbankan selalu sama: wong cilik.
Karena jika semua merasa paling perlu, benar kata pepatah, yen kabeh rumangsa paling perlu, sing dikorbanke mesthi wong cilik—dan dari situlah lahir “tiang ruwet” yang sejatinya cermin dari keruwetan tata kelola, bukan keruwetan teknologi.(MSar)



