spot_img

Adab dalam Bekerja: Antara Amanah, Kepercayaan, dan Etika Profesional

Adab Dalam dunia kerja, apa pun bentuk dan bidangnya, kepercayaan adalah fondasi utama. Tanpa kepercayaan, kerja sama hanya akan menjadi hubungan sementara yang rapuh dan mudah runtuh. Namun, kepercayaan saja tidak cukup. Ia harus disertai dengan adab, kejujuran, tanggung jawab, dan etika profesional
Banyak persoalan yang terjadi di lapangan, terkait Adab dalam bekerja, sejatinya bukanlah persoalan hukum, melainkan persoalan moral. Ketika kecerdikan berjalan tanpa adab, yang lahir bukan keberhasilan, melainkan keretakan hubungan dan hilangnya keberkahan.

Ketika Kepercayaan Diuji

Kisah berikut menjadi gambaran nyata bagaimana kepercayaan bisa runtuh ketika adab tidak dijaga dengan baik.
Seorang (A) bukanlah petani, namun diberi kepercayaan oleh (B), pemilik lahan, untuk mengelola beberapa bidang sawah yang sebelumnya tidak terurus. Tanah tersebut diberikan tanpa sistem sewa, semata-mata agar bisa dimanfaatkan secara produktif.

BACA JUGA  Mengenang Perjalanan Hidup 2025–2026: Doa untuk Negeri dan Harapan Baru

Dalam pelaksanaannya, (A) mengajak (C) untuk membantu mengatur tenaga kerja dan proses pengolahan sawah. Karena dianggap rajin dan bertanggung jawab, (C) diberi kepercayaan lebih, termasuk mengelola hasil panen dan menjalin komunikasi dengan pihak lain.

Namun di tengah perjalanan, muncul peristiwa yang mengejutkan. Salah satu bidang sawah tiba-tiba diminta kembali oleh pemiliknya, (B), dengan alasan setelah berkonsultasi dengan dua orang lulusan pertanian, lahan tersebut lebih cocok ditanami padi.

Belakangan diketahui, permintaan tersebut ternyata berkaitan dengan (C). Tanah yang sebelumnya dikelola bersama itu ternyata disewa oleh (C) sendiri, tanpa keterbukaan sejak awal kepada (A).

Situasi ini menimbulkan kekecewaan mendalam. Bukan semata karena urusan materi, tetapi karena rusaknya kepercayaan. Akhirnya, kerja sama pun harus diakhiri.

Amanah: Fondasi Moral dalam Bekerja

Dalam ajaran agama, adab dalam bekerja yang amanah bukan sekadar kewajiban profesional, melainkan tanggung jawab moral yang besar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah.”

Hadis ini menegaskan bahwa kepercayaan bukan hanya soal kerja, tetapi menyangkut integritas dan nilai keimanan seseorang. Mengkhianati amanah berarti merusak fondasi kepercayaan yang menjadi dasar kehidupan sosial.

Adab menjalin kerjasama adalah sikap profesional, saling menghormati, berkomunikasi efektif, transparan, bertanggung jawab, dan berorientasi pada tujuan bersama, dengan landasan etika dan nilai luhur seperti kejujuran dan integritas, agar terwujud sinergi positif dan saling menguntungkan.

BACA JUGA  RSUD Bukittinggi Gelar Pelatihan Tanggap Bencana Bersama BPBD

Adab dalam bekerjasama itu identik dengan aturan tingkah laku, etika, dan sopan santun yang diterapkan saat berinteraksi dan berkolaborasi dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pandangan Islam, kerjasama dikenal dengan istilah ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan takwa. 

Cerdas Boleh, Licik Jangan

Kecerdikan adalah kemampuan membaca peluang secara bijak dan etis. Namun ketika kecerdikan digunakan untuk memanfaatkan situasi, mengabaikan adab, menutup informasi, atau mengambil keuntungan pribadi secara diam-diam, maka itu bukan lagi kecerdasan—melainkan kelicikan.

Di dunia kerja, praktik seperti ini sering dibungkus dengan istilah “pandai mencari celah”. Padahal, dalam perspektif moral, tindakan tersebut justru merusak nilai kejujuran dan menghancurkan kepercayaan jangka panjang.

Kepercayaan Perlu Diiringi Kehati-hatian

Peristiwa ini juga memberi pelajaran penting bahwa kepercayaan harus disertai adab dan kehati-hatian. Memberi wewenang tanpa kontrol dapat membuka peluang penyalahgunaan.

Namun perlu digarisbawahi:
°Kesalahan karena terlalu percaya lahir dari niat baik.
°Kesalahan karena tidak jujur lahir dari kepentingan pribadi.
Keduanya sangat berbeda secara moral.

Pelajaran Berharga

Beberapa nilai penting yang bisa dipetik dari peristiwa ini antara lain:
°Amanah lebih berharga daripada keuntungan materi
°Kejujuran adalah modal jangka panjang
°Kepintaran tanpa etika hanya akan merusak hubungan
°Rezeki yang baik lahir dari proses yang bersih
°Kepercayaan yang rusak sulit dipulihkan

Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati amanah Allah dan amanah di antara kamu.”
(QS. Al-Anfal: 27)

Penutup Redaksi

Dunia kerja hari ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar, tetapi juga mereka yang beradab. Sebab keberhasilan sejati tidak diukur dari seberapa besar keuntungan yang diraih, melainkan seberapa bersih cara memperolehnya..

Harta bisa habis, jabatan bisa hilang, tetapi nama baik dan kepercayaan akan selalu menjadi warisan yang menentukan bagaimana seseorang dikenang. (Jiyono/MSar) 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img