SAJADAH TAK IKUT KE RUANG KEPUTUSAN
Cerpen: Ismilianto
Ia hidup di negeri yang tampak saleh dari kejauhan. Menara masjid menjulang, azan bersahut-sahutan, saf dirapatkan, doa dipanjangkan, air mata mudah jatuh di sajadah.
Ia pun larut di dalamnya. Salatnya terjaga. Umrah telah ditunaikan. Haji tinggal menunggu giliran. Ia mengira, semua itu sudah cukup untuk disebut takut kepada Allah.
Sampai suatu hari, ia diuji bukan di mihrab, melainkan di kursi kekuasaan. Ada jabatan kosong.Namanya disebut perlahan.
Nilainya baik. Pengalamannya panjang. Masa depannya seakan terbuka.
Lalu bisikan itu datang, tak kasar, tak mengancam, justru ramah seperti nasihat. “Kalau mau aman, ada jalur cepat.” “Tenang saja, semua juga begitu.” “Bukan sogok, hanya biaya ikhtiar.”
Padahal langit telah lebih dulu mengingatkan:“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil, dan jangan kalian menyuap para hakim.” (QS. Al-Baqarah: 188).
Ia tersenyum tipis, namun dadanya bergetar. Malam itu, ia berdiri lebih lama di hadapan Tuhan.Sujudnya berat, seakan bumi menahan keningnya.
Dadanya sesak, seperti disesaki pertanyaan yang tak mau pergi.
Dalam diam, ayat itu menggema di relung hatinya: “Apakah mereka merasa aman dari azab Allah?Tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99).
Saat itulah ia sadar, sajadah selalu dibentang di masjid, namun sering tertinggal ketika langkah memasuki ruang keputusan.
Padahal Rasulullah SAW telah bersabda: “Laknat Allah atas pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Kata laknat itu jatuh ke hatinya seperti palu. Tangannya gemetar. Napasnya tercekat.
Ia bertanya pada dirinya sendiri: untuk apa salat, jika di titik paling menentukan, ia memilih jalanyang Allah benci?
Bukankah telah difirmankan: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).
Jika salat tak mampu menahannya dari dosa ini, maka yang rusak bukan salatnya, melainkan kejujurannya di hadapan Allah.
Pagi harinya ia datang ke kantor. Tangannya kosong. Tak ada map cokelat. Tak ada bahasa terima kasih. Tak ada jalan pintas.
Ia menyerahkan surat pengunduran diri. Tatapan heran mengiringinya. Sebagian tersenyum sinis, seolah ia baru saja menukar masa depan dengan kebodohan.
Ia hanya berkata lirih, “Aku takut berdiri di hadapan Allah dengan jabatan yang kudapat dari jalan yang haram.”
Sebab ia teringat sabda Nabi SAW: “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ahmad)
Ia pulang. Langkahnya ringan, meski dunia terasa menyempit. Tahun-tahun berlalu. Namanya tak pernah tercatat di papan struktur.
Hidupnya biasa. Tanpa gelar. Tanpa jabatan. Namun satu per satu, mereka yang dulu tampak “berhasil”, mulai jatuh dalam senyap.
Ada yang terseret kasus. Ada yang kehilangan kehormatan. Ada yang wafat, namanya disebut tanpa doa, hanya bisik-bisik dan penyesalan.
Masjid tetap penuh. Ritual tetap ramai. Umrah dan haji terus berangkat.
Namun ada satu pemandangan yang mengguncang nurani: banyak sajadah bersih tak pernah ikut masuk ke ruang keputusan.
Di usia senjanya, ia hidup sederhana. Tak kaya. Tak berkuasa. Namun wajahnya tenang, seperti seseorang yang telah berdamai dengan Tuhannya.
Ia menggenggam keyakinan ini: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ia mungkin kecil di mata manusia, namun ia berharap, tidak kecil di hadapan Allah.
Karena akhirnya ia mengerti, bukan ibadah yang diuji di masjid, melainkan takut kepada Allah saat dunia menawarkan jalan pintas.



