spot_img

SAAT MULUT TAK LAGI BISA BERDALIH

Saat Mulut Tak Lagi Bisa Berdalih

Cerpen: oleh Ismilianto

Tanah itu menutup perlahan.

Suara langkah manusia menjauh.

Sunyi… yang tak pernah kutahu bentuknya.

Aku, Fauzan. Di dunia, aku dikenal sebagai orang sibuk.

Rajin ke masjid jika sempat.

Sedekah jika ada lebih.

Salat tetap dijaga—kataku.

Tiba-tiba, bumi bergetar halus. Udara terasa berat.

Dua sosok berdiri.

Wajahnya bukan menakutkan,

namun wibawanya membuat jiwaku gemetar.

“Man rabbuka?”

Siapa Tuhanmu?

Aku tergagap.

“Allah…”

“Ma dīnuka?”

Apa agamamu?

“Islam…”

“Man nabiyyuka?”

Siapa nabimu?

“Muhammad SAW…”

Jawaban itu keluar otomatis.

Seperti hafalan lama.

Aku menarik napas—jika ini bisa disebut napas.

Namun pertanyaan itu belum selesai.

“Dari mana hartamu?”

Dadaku sesak.

Dari kerja… dari usaha… dari jalan yang halal,

aku ingin menjawab lantang.

Tapi sebelum kata itu terbentuk, ingatan lain menyerbu. Uang yang kugenggam halal, ya.

Namun aku ingat ke mana ia kubelanjakan.

Meja judi yang kusebut penghilang stres.

Malam-malam gelap yang kusebut kesalahan kecil.

“Ke mana engkau membelanjakannya?”

Aku terdiam. Tak ada lagi tempat bersembunyi.

Aku teringat ayat yang dulu sering kudengar, namun jarang kujadikan pagar:

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172)

Baik…

Aku hanya menjaga halal di awal, bukan di akhir.

Malaikat itu kembali bertanya,

suaranya tenang, tapi menghunjam:

“Apakah engkau tahu bahwa Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik?”

Aku tahu hadis itu.

Aku pernah mendengarnya.

“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Namun mengetahui ternyata tidak sama dengan menjaga.

Aku ingin berkata:

Bukankah aku salat?

Bukankah aku sedekah?

BACA JUGA  JANGAN ULANGI KESALAHANKU

Tapi pertanyaan lain datang, lebih tajam:

“Apakah amal itu engkau bangun di atas rezeki yang bersih?” Kata-kata itu mematahkan sisa kekuatanku.

Aku ingat sabda Nabi SAW:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi)

Di dunia, hadis itu terdengar seperti nasihat.

Di sini, ia menjadi keputusan.

Aku menunduk.

Tak ada air mata.

Tak ada alasan.

Aku baru mengerti,

salat bisa gugur nilainya,

sedekah bisa kehilangan cahayanya, jika perut dan dompet tak dijaga.

Sunyi kembali menyelimuti.

Dan di antara gelap itu,

aku berharap— semoga satu penyesalan ini

menjadi peringatan

bagi mereka yang masih punya waktu.

Karena di sini, tak ada lagi kesempatan berkata:

“Nanti aku perbaiki.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img