spot_img

JANGAN ULANGI KESALAHANKU

Jangan Ulangi Kesalahanku

Cerpen: oleh Ismilianto

Aku Ridwan. Dulu aku berjalan di antara kalian. Kini aku terbaring di bawah tanah yang sunyi.

Jika kalian bisa mendengar suaraku, bukan teriakan yang ingin kusampaikan, melainkan pesan yang datang terlambat.

Di dunia, aku salat. Aku sedekah. Namaku pernah disebut sebagai orang baik.

Namun di sini, aku baru paham makna menjaga. Aku kira haram hanya soal cara mencari.

Aku lupa, haram juga soal cara membelanjakan. Uang yang kucari dengan halal mengalir ke tempat yang membuat Allah murka.

Aku menukar keberkahan dengan kesenangan yang singkat. Dulu aku dengar ayat ini, tapi hanya singgah di telinga:

“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Aku menjaga halal di awal, namun melupakan yang baik di akhirnya. Aku juga pernah mendengar sabda Nabi SAW:

“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Kini aku mengerti, bahwa amal yang dibangun di atas yang kotor akan runtuh ketika paling dibutuhkan.

Wahai kalian yang masih hidup, yang masih bisa memilih, yang masih bisa memperbaiki— jangan ulangi kesalahanku.

Jangan bangga pada panjangnya doa jika perutmu tak kau jaga.

Jangan merasa aman dengan sedekah jika dompetmu mengalir ke maksiat. Karena di sini, aku ditanya bukan seberapa banyak amal, melainkan seberapa bersih ia dijalani.

Aku ingin mengutip satu sabda lagi yang dulu kuanggap biasa:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi)

Pertanyaan itu kini menjadi teman sunyiku. Jika saja aku diberi satu hari kembali, aku tak akan menambah harta, aku hanya ingin membersihkannya.

BACA JUGA  BAYANGAN DI LIANG LAHAT

Jika saja aku diberi satu sujud lagi, aku akan memohon agar Allah membersihkan rezekiku

sebelum membersihkan amal-amalku. Wahai yang masih bernapas, yang masih diberi pagi dan malam, yang masih bisa memilih arah langkah, jangan tunggu seperti aku.

Di sini, tak ada lagi tawar-menawar. Tak ada kata nanti. Tak ada kesempatan memperbaiki niat atau membersihkan harta.

Yang dibawa hanya amal, dan amal hanya bernilai jika ia bersih sejak dicari hingga dibelanjakan.

Aku telah menutup mata dengan penyesalan yang tak berguna. Aku telah mengerti saat tak ada lagi waktu untuk berubah.

Maka sebelum tanah memeluk tubuhmu, sebelum doa orang lain menjadi satu-satunya suara untukmu, berhentilah sejenak…periksalah rezekimu, bersihkan jalan hidupmu.

Jangan biarkan kesalehanmu hanya terlihat di sajadah, sementara catatan langitmu dipenuhi aliran yang kotor.

Karena di alam ini, tak ada lagi kesempatan berkata:

“Besok aku perbaiki.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img