Dzikir di Waktu Magrib
Magrib selalu datang dengan sunyi. Seolah Allah ingin memberi jeda, antara terang yang melelahkan dan gelap yang menguji keikhlasan.
“Dan bertasbihlah kepada Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (QS. Thaha: 130)
Sore itu, masjid kampung hampir kosong. Hanya beberapa orang tua yang masih duduk, bibir mereka bergerak pelan.
Di saf belakang, seorang lelaki memilih tetap duduk setelah doa bersama usai. Tak ada yang tahu, siang tadi hidupnya runtuh.
Usaha yang ia jaga bertahun-tahun terhenti. Janji-janji manusia yang ia pegang satu per satu gugur.
Ia teringat ayat yang pernah ia dengar, tetapi baru benar-benar ia pahami sore itu:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Lampu masjid mulai diredupkan. Langit di luar semakin gelap. Ia menunduk lama, lalu berbisik:
“Ya Allah, aku tak tahu harus menjelaskan hidupku kepada siapa lagi selain kepada-Mu.”
Air mata jatuh. Bukan karena ia paling menderita, tetapi karena untuk pertama kalinya hari itu, ia berhenti merasa harus kuat.
Ia teringat kisah Imam Ahmad bin Hanbal. Di penjara, disiksa dan difitnah, beliau tidak mengadu kepada manusia.
Malam-malamnya diisi dzikir sunyi. Ketika ditanya apa yang membuatnya bertahan, beliau berkata,
“Karena Allah selalu mendengar, meski manusia tak peduli.”
Lelaki itu menarik napas panjang. Ia sadar, siang hari ia sibuk berjuang, tetapi lupa pulang pada Alloh.
“Dan hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Magrib itu tidak langsung mengubah nasibnya. Masalahnya belum selesai. Telepon dari rumah tetap belum ia angkat.
Namun ada yang berubah. Dadanya tak lagi sesak. Langkahnya saat keluar masjid lebih ringan.
Ia pulang membawa satu keyakinan kecil, yang cukup untuk bertahan malam ini:
Allah tidak selalu mengubah keadaan seketika, tetapi selalu menguatkan hati hamba yang mau duduk dan jujur di hadapan-Nya.
Dan di sanalah ia mengerti, dzikir di waktu Magrib bukan sekadar penutup hari,tetapi pintu pulang bagi jiwa yang lelah.
Jika malam ini terasa berat, mungkin bukan karena Allah jauh, melainkan karena Dia sedang menunggu kita duduk lebih lama setelah salam terakhir.



