Doa Yang Terhenti di Langit
Aku masih ingat wajahnya di saf depan masjid. Pak Rahman namanya. Suaranya lirih, tetapi istiqamah. Shalat Subuh hampir tak pernah tertinggal. Kotak infak selalu disentuh tangannya.
“Orang baik,” kata orang-orang. Dan aku pun percaya.
Suatu malam, selepas Isya, aku duduk di sampingnya. Ia menghela napas panjang.
“Entah kenapa,” katanya pelan,
“hidup terasa sempit. Doa-doa seperti memantul kembali.”
Aku terdiam. Kalimat itu menusuk, bukan karena keluhan, melainkan karena kejujuran.
Malam itu, imam masjid membaca ayat:
“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Entah mengapa, Pak Rahman menunduk lebih lama dari biasanya.
Beberapa hari kemudian, aku tahu sebabnya. Bukan dari gosip, melainkan dari pengakuannya sendiri.
Ia memang mencari rezeki dengan cara halal. Bekerja keras. Berkeringat.
Namun, di balik itu, ada kebiasaan yang ia anggap sepele.
Setiap gajian, sebagian uangnya hilang di meja judi. Sesekali ia berkata, “Hanya hiburan.”
Kadang juga habis di tempat-tempat yang membuat malaikat enggan mendekat.
“Aku shalat,” katanya lirih.
“Aku sedekah. Tapi aku tak menjaga ke mana uang itu pergi.”
Aku teringat sabda Nabi SAW:
“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
Dan kisah yang beliau sampaikan tentang seorang musafir yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan. (HR. Muslim)
Malam itu Pak Rahman menangis. Bukan karena takut miskin, tetapi karena takut ibadahnya selama ini hampa.
“Aku kira haram itu hanya soal babi dan khamr,” katanya.
“Nyatanya, haram juga soal ke mana rezeki dibelanjakan.”
Aku tak menyela. Kadang, nasihat terbaik adalah diam yang menemani.
Beberapa pekan berlalu. Pak Rahman berubah. Ia masih di saf depan, tetapi kini sujudnya lebih lama.
Ia menjual motornya. Melunasi hutang-hutang kecil. Menjauhi tempat yang dulu disebutnya hiburan.
Suatu pagi, selepas Subuh, ia berkata padaku,
“Sekarang aku mengerti ayat ini.”
“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Rezekinya tak melonjak. Hidupnya masih sederhana. Namun wajahnya lebih lapang.
“Bukan uangnya yang bertambah,” katanya sambil tersenyum,
“tetapi hatiku yang tak lagi sesak.”
Aku pulang pagi itu dengan langkah pelan. Di kepalaku berputar satu pertanyaan yang tak bisa kuhindari:
Jangan-jangan, doa-doa kita selama ini bukan salah alamat, melainkan terhenti karena satu suap, satu lembar uang, yang tak kita jaga.
Dan aku pun sadar, ibadah bukan hanya tentang rukuk dan sujud, tetapi juga tentang apa yang masuk ke perut, dan ke mana rezeki itu pergi.



