BAYANGAN DI LIANG LAHAT
Ia meninggal dalam keramaian. Pesan berantai menyebar cepat. Karangan bunga berjejer. Nama almarhum disebut-sebut dengan suara lantang.
Namanya Rasyid. Orang kampung mengenalnya sebagai lelaki berhasil. Rumahnya besar. Mobilnya dua. Ia pandai bicara. Pandai tampil. Pandai meyakinkan orang.
“Salat bisa nanti,” katanya sering sambil tertawa.
“Yang penting hati baik.”
Subuh hari itu, tanah menutup tubuhnya. Doa dibacakan panjang. Namun setelah manusia pergi, sesuatu yang lain datang.
Malam pertama di kubur turun perlahan. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara penenang.
Hanya gelap yang merambat, seperti lumpur dingin menelan dada. Tanah bergerak. Himpitan datang tiba-tiba. Rasyid berteriak, tapi suaranya memantul dan mati.
“Kenapa sesak?” jeritnya.
Tidak ada jawaban. Lalu muncul bayangan. Bukan cahaya. Bukan sosok ramah. Hitam. Berat. Menekan.
“Aku lalai,” kata bayangan itu.
“Aku waktu-waktumu yang kau buang.”
Rasyid terisak. “Pergilah…”
Bayangan itu justru membesar. Kemudian terdengar suara lain. Patah. Kering. Bukan ayat. Bukan doa.
“Aku Qur’anmu,” kata suara itu hambar.
“Kau letakkan aku di rak. Kau sentuh hanya saat butuh citra.”
Suara itu menjauh. Meninggalkan kekosongan yang lebih sunyi dari sepi.
Dari tanah muncul makhluk-makhluk menjijikkan.
Mendekat. Mengelilingi.
“Apa ini?” teriak Rasyid panik.
“Kami dusta-dustamu,” jawab mereka.
“Kami janji-janji yang kau ingkari.”
“Kami sedekah yang kau hitung sambil pamer.”
Rasyid memejamkan mata. Tidak ada yang mengusir mereka.
Dua sosok tinggi berdiri. Wajahnya tegas. Suaranya mengguncang bumi.
“Siapa Tuhanmu?”
Rasyid membuka mulut. Kosong. Lidahnya kaku.
Ia ingin menjawab. Ia pernah mendengar jawabannya.
Namun kalimat itu tidak pernah ia latih. Di atas tanah, anaknya berdiri di tepi kubur. Tangannya menggenggam ponsel. Wajahnya bingung.
“Ayah orang baik, kan?” katanya pada seseorang.
“Semua bilang begitu.” Angin pagi berhembus.
Namun di bawah tanah, Rasyid gemetar. Kubur itu gelap. Sempit. Ramai oleh penyesalan. Karena ia baru mencari cahaya setelah hidupnya habis.



