spot_img

AKU KALAH DI PAGI HARI

Aku Kalah Di Pagi Hari

Cerpen: oleh Ismilianto

Azan Subuh baru saja padam ketika aku menutup pintu masjid. Langkahku berat, bukan karena dingin, tetapi karena aku merasa telah menang— dan itulah kekalahanku.

Aku menang debat semalam. Menang argumen, menang logika, menang sorak diam dalam dada.

Aku pulang dengan kepala tegak dan hati yang diam-diam membusung. Pagi itu aku salat, tetapi rasanya kosong.

Ayat-ayat mengalir di lisan, namun tak satu pun singgah lama di hati.

Di depan masjid, seorang tua menyapaku, “Masya Allah, rajin sekali Subuh berjamaah.”

Aku tersenyum, namun senyum itu seperti retak. Sebab baru kusadari, aku rajin mendatangi masjid tetapi lalai mendatangi Allah.

Di rumah, kubuka ponsel. Debat semalam masih berserakan, kata-kataku tajam, logikaku menusuk, dan egoku berdiri paling depan.

Tiba-tiba terlintas satu ayat:

“Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong.” (QS. Luqman: 18)

Aku terdiam lama.

Ternyata aku bukan kalah pada orang lain, aku kalah pada diriku sendiri.

Pagi itu aku sujud lagi, bukan karena rakaat, melainkan karena takut: takut Allah hadir dalam hidupku hanya sebagai formalitas.

Aku belajar satu hal: tidak semua kemenangan dicintai langit, dan tidak semua kebenaran perlu diteriakkan.

Kadang, diam yang ikhlas lebih mulia daripada suara yang menang.

Pesan moral:

Yang paling berbahaya bukan salah, tetapi merasa paling benar hingga lupa merendah di hadapan Allah.

BACA JUGA  Satu Rakaat yang Ditunda

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img