Karhutla Ancam Kesehatan! Asap Berbahaya, Ini Cara Ampuh Melindungi Diri

redaksisatu  —  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga membawa partikel halus yang dapat menembus paru-paru dan memperburuk berbagai penyakit, mulai dari asma hingga gangguan jantung.

Bahaya asap karhutla perlu diwaspadai karena dampaknya dapat muncul dalam waktu singkat setelah seseorang terpapar. Risiko semakin besar apabila paparan berlangsung lama atau konsentrasi polutan di udara tinggi.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan, penyakit jantung, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat asap tersebut.

Karhutla merupakan singkatan dari kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran ini menghasilkan asap yang mengandung campuran gas dan partikel halus, termasuk PM2.5. Partikel tersebut berukuran sangat kecil, jauh lebih kecil daripada sehelai rambut, sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Sebagian partikel juga dapat menembus ke aliran darah.

Paparan asap karhutla dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Gejalanya meliputi mata perih dan berair, hidung gatal atau meler, bersin, tenggorokan kering, hingga suara serak. Keluhan dapat memburuk ketika konsentrasi asap meningkat.

Dampak berikutnya adalah gangguan pernapasan. Partikel halus dapat memicu batuk, napas berbunyi atau mengi, dada terasa berat, dan sesak napas. Pada penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asap dapat memicu kekambuhan serta memperparah gejala yang sudah ada.

Orang yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga perlu berhati-hati. Paparan asap dapat memperburuk batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Selain itu, sakit kepala dan kelelahan dapat menyertai paparan asap, terutama ketika kualitas udara memburuk.

BACA JUGA  BKKBN Kolaborasi dengan Mitra Kerja Komisi IX DPR RI di Timika, Turunkan Stunting

Ancaman karhutla juga menyentuh kesehatan jantung dan pembuluh darah. Partikel halus dapat memicu peradangan yang memengaruhi fungsi kardiovaskular. Paparan polusi udara dalam konsentrasi tinggi atau dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.

Lansia serta orang yang memiliki penyakit jantung atau tekanan darah tinggi perlu lebih waspada. Nyeri dada, sesak napas mendadak, dan keringat dingin yang tidak biasa merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Pada ibu hamil, paparan polusi udara dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Karena itu, ibu hamil perlu mengurangi paparan asap, terutama ketika kualitas udara di lingkungan tempat tinggal memburuk. Batuk berkepanjangan, sesak napas, berkurangnya gerakan janin, atau tanda bahaya kehamilan lainnya harus segera diperiksakan.

Anak-anak juga lebih rentan karena sistem pernapasannya masih berkembang. Sementara itu, lansia berisiko mengalami dampak yang lebih berat, terutama jika memiliki penyakit penyerta seperti asma, PPOK, atau penyakit jantung.

Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak langsung dapat mengalami stres dan kecemasan akibat kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga, kehilangan tempat tinggal atau mata pencaharian, serta keharusan mengungsi.

Jika berlangsung berkepanjangan, tekanan psikologis dapat mengganggu tidur, konsentrasi, dan aktivitas sehari-hari. Sebagian orang juga dapat mengalami kesedihan, mudah marah, atau kekhawatiran yang terus-menerus.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar rumah saat udara dipenuhi asap. Olahraga, pekerjaan fisik berat, dan perjalanan yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi. Pantau informasi kualitas udara sebelum beraktivitas dan hindari berada di luar ruangan ketika kondisi memburuk.

Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, gunakan masker respirator N95 atau KN95 yang pas di wajah dan menutup hidung serta mulut dengan rapat. Masker ini membantu menyaring partikel halus lebih baik daripada masker kain biasa. Namun, masker respirator tidak dapat menyaring seluruh jenis gas berbahaya dalam asap karhutla.

BACA JUGA  Personel Ditsamapta Polda Kalbar Himbau Masyarakat Agar Tidak Membakar Lahan

Ketika asap masuk ke lingkungan rumah, tutup pintu, jendela, dan celah yang memungkinkan udara tercemar masuk. Jika tersedia, gunakan alat pembersih udara dengan filter HEPA di ruangan yang paling sering digunakan. Pastikan pengaturan pendingin ruangan tidak memasukkan udara luar yang tercemar.

Kualitas udara dalam rumah juga perlu dijaga. Hindari merokok, membakar sampah, menyalakan lilin atau dupa, serta memasak dengan cara yang menghasilkan banyak asap tanpa ventilasi memadai. Jika menggunakan alat pembersih udara, sesuaikan kapasitasnya dengan ukuran ruangan dan rawat filternya sesuai petunjuk penggunaan.

Masyarakat juga perlu memenuhi kebutuhan air minum dan beristirahat cukup. Air putih dapat membantu menjaga kelembapan tenggorokan, tetapi tidak menghilangkan partikel berbahaya yang sudah terhirup. Jika batuk menetap, sesak napas muncul, atau keluhan semakin berat, segera konsultasikan dengan dokter.

Bagi penderita asma, PPOK, dan penyakit jantung, obat rutin harus selalu tersedia dan digunakan sesuai anjuran dokter. Jangan menghentikan pengobatan atau mengubah dosis tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis. Penderita asma juga perlu mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter.

Masyarakat harus mengenali tanda bahaya akibat paparan asap karhutla. Sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, pingsan, serta bibir atau wajah yang tampak kebiruan memerlukan pertolongan medis segera.

Pada anak-anak, napas yang lebih cepat dari biasanya, kesulitan bernapas, dan tubuh yang sangat lemas juga perlu diwaspadai. Jika tanda bahaya muncul, segera menuju instalasi gawat darurat (IGD) atau hubungi layanan kegawatdaruratan setempat.

Selain melindungi kesehatan sehari-hari, keluarga yang tinggal di wilayah rawan karhutla perlu menyiapkan tas siaga bencana. Tas ini harus mudah dijangkau apabila sewaktu-waktu diperlukan untuk evakuasi.

Perlengkapan yang perlu disiapkan meliputi masker respirator N95 atau KN95, obat-obatan pribadi, air minum, makanan tahan lama, serta perlengkapan pertolongan pertama seperti plester, kasa steril, dan antiseptik.

BACA JUGA  Ketua DPD RI Minta Pemerintah Tangani Polusi Udara

Dokumen penting, termasuk salinan kartu identitas, kartu BPJS Kesehatan, dan dokumen keluarga, sebaiknya disimpan dalam wadah kedap air. Siapkan pula tisu, tisu basah, sabun, pembersih tangan, pakaian ganti, jaket, dan selimut tipis.

Keluarga yang memiliki bayi atau lansia perlu menambahkan perlengkapan sesuai kebutuhan mereka. Ponsel, pengisi daya, power bank, senter, uang tunai, serta daftar kontak darurat juga perlu tersedia.

Tas darurat harus diperiksa secara berkala untuk memastikan obat-obatan, makanan, dan air minum belum kedaluwarsa. Perlengkapan perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap anggota keluarga.

Persiapan juga mencakup pencarian informasi mengenai lokasi fasilitas kesehatan dan tempat pengungsian terdekat. Seluruh anggota keluarga perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan jika kualitas udara memburuk atau kondisi mengharuskan evakuasi.

Karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat. Mengurangi paparan asap, menjaga kualitas udara dalam rumah, menyiapkan perlengkapan darurat, dan mengenali tanda bahaya merupakan langkah penting untuk mengurangi risikonya.

Masyarakat tidak boleh mengabaikan keluhan yang menetap atau semakin parah setelah terpapar asap. Pemeriksaan medis sejak dini sangat penting, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang yang memiliki penyakit penyerta.

sumber: alodokter.com

spot_img