REDAKSI SATU – Beberapa Oknum Aparat Kepolisian yang terlibat mengamankan situasi Kamtibmas pada saat Aksi Demo, bersikap Arogansi dan premanisme terhadap beberapa Wartawan yang sedang melakukan peliputan depan Pos Polisi, Bundaran Bumbu Runcing, Taman Digulis Untan, Kota Pontianak, Rabu 21 Oktober 2026, sekitar pukul 18.47 WIB.
Sebelum peristiwa Arogansi dan Intervensi oknum Polisi kepada beberapa Wartawan, terpantau Mahasiswa bergerak dari titik kumpul Fakultas Pertanian Untan menuju bundaran Bambu Runcing, Taman Digulis, Kota Pontianak dan selanjutnya menuju ke Kantor Gubernur Kalbar.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Tiba di Halaman kantor Gubernur Kalbar, Mahasiswa menyampaikan aspirasi agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar mengklarifikasi terkait penggunaan anggaran bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Mahasiswa juga meminta kepada Aparat Kepolisian menjelaskan keberadaan oknum Ormas pada aksi demo sebelumnya dan oknum ormas melakukan pemukulan kepada Mahasiswa hingga terjadi luka-luka.
Setelah menggelar aksi sekitar satu jam, Gubernur Kalbar, Ria Norsan tak kunjung menemui pengunjuk rasa, lantas pengunjuk rasa membubarkan diri dan memblokade Bundaran Tugu Digulis lantaran kesal tak ditemui oleh Gubernur Ria Norsan.
Aksi demonstrasi pecah, bermula aparat Kepolisian memukul mundur mahasiswa dengan tembakan air menggunakan Mobil Water Cannon dan dibalas oleh mahasiwa dengan petasan dan lemparan batu.

Selanjutnya, sejumlah Wartawan media online baik Lokal maupun Nasional yang melaksanakan tugas liputan di intervensi dan di intimidasi meminta penghapusan dokumentasi video dan foto oleh oknum anggota Resmob, Id Card di Foto dan ada juga yang di dorong-dorong dengan cara-cara arogan bergaya preman hingga sentuhan fisik yang dilakukan oleh oknum inisial Tr diduga Kanit Resmob.
Tidak hanya itu, berdasarkan pantauan dan dokumentasi video bahwa Water Cannon Kepolisian pun sengaja diarahkan dan disiramkan ke arah kelompok wartawan dari masing-masing Awak Media yang sedang melakukan peliputan pengambilan dokumentasi, meskipun sudah mengantukkan id Card Pers dan bilang “Kami Wartawan” berkali-kali di depan Pos Polsi, Bundaran Bumbu Runcing, Taman Digulis Untan, Kota Pontianak, Rabu 21 Oktober 2026, sekitar pukul 18.47 WIB. Beberapa saat pasca penyiraman kepada para Wartawan, tiba-tiba muncul titik api di salah satu sudut Pos Polisi, dan Water Cannon pun kembali di arahkan ke Pos Polisi hingga titik api tersebut padam.
Sebelum kericuhan terjadi, Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto menghimbau kepada Mahaiswa agar membubarkan diri lantaran ijin aksi unjuk rasa sudah melewati batas waktu yang ditentukan.
‘’Saya menghimbau kepada adik-adik mahasiswa agar kembali ke rumah masing-masing dan segera membubarkan diri,’’ kata Endang Tri Purwanto.
Sementara itu, DEMA IAIN Pontianak, Fiki mengatakan aksi unjuk rasa yang dilaksanakan oleh mahasiswa tersebut meminta agar Pemprov Kalbar transparansi dalam penggunaan anggaran Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebesar Rp60 Milyar, isu korupsi, dan pendidikan.
‘’Kami minta Pemprov Kalbar mengklarifikasi penggunaan anggaran penanganan bencana Karhutla,’’ujarnya.
Lebih lanjut, Fiki mengatakan, pada aksi demonstrasi sebelumnya ada sejumlah mahasiswa yang mengalami luka akibat diduga dipukul oleh oknum Ormas. Dan kasus tersebut telah dilaporkan ke Polda Kalbar.
‘’Saya minta kasus dugaan pemukulan oleh oknum Ormas ini diusut hingga tuntas dan para pelaku segera ditangkap. Dan kami akan kawal hingga ke Pengadilan,’’ pungkasnya.
Situasi kembali terkendali setelah Kapolda Irjen Pol Alberd Teddy Benhard Sianipar tiba di lokasi, Bundaran Bumbu Runcing, Taman Digulis, Kota Pontianak, sekitar pukul 19.08 WIB.





