Wamenhan Ungkap Penyebab Kematian Lima Calon Manajer Kopdes

Oleh: Windi Mayuda

Jakarta, Redaksi Satu.id | Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan), Donny Ermawan Taufanto, mengungkapkan bahwa puluhan ribu peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) .

“Yang dipersiapkan menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih semula dirancang ,sebagai bagian dari Komponen Cadangan (Komcad). Karena itu, para peserta diwajibkan mengikuti latihan dasar militer (Latsarmil).

Komcad merupakan sumber daya nasional yang dipersiapkan untuk memperkuat komponen utama pertahanan negara, yakni TNI. Awalnya, Latsarmil dirancang berlangsung selama 30 hari di 67 satuan pendidikan TNI di seluruh Indonesia.

Mengungkapkan Peristiwa Calon Manajer Koperasi Desa 

Hal tersebut disampaikan Donny dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

“Kami sudah menyampaikan kepada anggota Komisi I DPR untuk merevisi program ini. Yang semula mereka akan menjadi Komponen Cadangan, kini kami tetapkan hanya diberikan pembinaan pendidikan dan pelatihan bela negara,” ujar Donny.

Materi Bela Negara Berlangsung Dua Pekan

Donny menjelaskan, setelah format latihan diubah dari Latsarmil menjadi pendidikan bela negara, para calon manajer Kopdes tidak lagi menerima materi taktik militer maupun penggunaan senjata, meskipun masih mengenakan seragam loreng sage selama mengikuti sisa masa pelatihan.

BACA JUGA  Buka Ruang Kritik, 3 Polisi Teladan Terima Reward Hoegeng Awards 2022

Menurutnya, materi yang diberikan kini berfokus pada penanaman nilai nasionalisme, patriotisme, disiplin, serta kepemimpinan.

“Jadi mereka hanya diberikan pelajaran terkait nasionalisme, patriotisme, dan disiplin. Karena mereka mengikuti jadwal harian yang secara tidak langsung juga melatih disiplin waktu,” jelasnya.

Selain itu, peserta juga memperoleh pelatihan kepemimpinan lapangan sebagai bekal dalam mengelola koperasi di berbagai daerah.

Materi bela negara diberikan selama dua pekan. Setelah itu, hingga pertengahan Juli 2026 peserta akan mengikuti pelatihan kepemimpinan dan manajerial selama 15 hari.

“Nanti tergantung SPPI ini arahnya ke mana. Kalau ke koperasi, mereka akan lebih banyak diberikan modul terkait koperasi.

Sedangkan yang akan mengelola Kampung Nelayan Merah Putih akan mendapatkan materi sesuai bidang tersebut,” katanya.

BACA JUGA  'Cembokur’ Bertopeng Politis di Isu Investasi Gibran dan Kaesang

Donny menambahkan, materi manajerial disiapkan oleh kementerian terkait, di antaranya Kementerian Koperasi serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang telah menyiapkan modul pembelajaran masing-masing.

Kemhan Mengungkapkan Bentuk Tim Investigasi

Dalam kesempatan itu, Donny juga mengungkapkan bahwa Kementerian Pertahanan telah membentuk tim investigasi bersama Kementerian Kesehatan untuk mengusut penyebab meninggalnya lima calon manajer Kopdes saat mengikuti pelatihan.

“Kami sudah membentuk tim dan akan menindaklanjutinya untuk mencari data-data tambahan mengenai penyebab kejadian ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu peserta yang meninggal di Satuan Pendidikan Halim diduga akibat penularan penyakit infeksi paru-paru.

Sebelumnya, Novia Ramadani Sihotang sempat disebut meninggal karena Tuberkulosis (TBC), namun hasil penelusuran Kementerian Kesehatan menyatakan penyebabnya adalah infeksi paru-paru akibat virus.

“Kasus di Halim terkait infeksi paru-paru memang karena ada penularan di sana. Kami bersama Kementerian Kesehatan telah melakukan langkah-langkah pencegahan,” ungkap Donny.

Kelelahan, Perubahan Pola Hidup, dan Cuaca Panas

Meski hasil investigasi belum rampung, Donny menyebut terdapat sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab meninggalnya lima peserta selama mengikuti pelatihan.

BACA JUGA  Polres Jakarta Barat Hadirkan Gerai Vaksin Booster di Sentra Kuliner Bilangan Tambora

“Penyebab kematiannya memang berbeda-beda. Namun secara umum dapat disimpulkan karena kelelahan, perubahan pola hidup dari kehidupan sipil ke kehidupan barak yang menuntut disiplin tinggi, serta faktor cuaca panas,” ungkapnya.

Pemerintah memastikan proses investigasi akan terus dilakukan untuk mengetahui secara menyeluruh, penyebab kematian para peserta serta menjadi bahan evaluasi dalam pelaksanaan program pelatihan ke depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img