Ruang Publik yang Kian Terbuka, Adab yang Kian Terkikis
Redaksisatu.id – Gelombang informasi yang mengalir deras melalui media sosial telah mengubah wajah politik kita secara drastis. Ruang publik tidak lagi dimonopoli oleh elite atau forum resmi, tetapi kini terbuka lebar bagi siapa saja. Dari akal waras rakyat kecil hingga pejabat tinggi, semua memiliki panggung yang sama: layar kaca di genggaman.
Namun, di balik keterbukaan itu, muncul persoalan serius—merosotnya akal waras adab dalam mengeluarkan gagasannya berpendapat, terkesan kebablasan.
Hari ini, kita menyaksikan bagaimana perdebatan publik tidak lagi dibangun di atas argumentasi, melainkan emosi. Kata-kata kasar, hujatan, bahkan fitnah menjadi konsumsi harian. Seolah-olah, semakin keras suara seseorang, semakin dianggap benar. Ini bukan hanya gejala kebebasan yang kebablasan, tetapi juga tanda melemahnya nalar kolektif.
Fanatisme dan Diamnya Kaum Waras
Lebih memprihatinkan lagi, sebagian masyarakat terjebak dalam fanatisme sempit. Figur-figur politik dipuja tanpa ruang kritik, dibela tanpa batas logika. Kebenaran tidak lagi dicari, tetapi ditentukan oleh siapa yang didukung. Dalam kondisi seperti ini, akal sehat perlahan tersingkir, digantikan oleh loyalitas buta.

Di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang memilih diam. Mereka berpegang pada falsafah Jawa: “terimo ngalah, terimo ngalih.” Sebuah sikap bijak yang mengedepankan harmoni dan menghindari konflik. Namun dalam konteks kekinian, diam juga bisa menjadi masalah. Ketika yang bersuara adalah mereka yang keras dan ekstrem, sementara yang waras memilih mundur, maka ruang publik akan dikuasai oleh kebisingan tanpa arah.
Menjaga Nalar, Merawat Demokrasi
Suarakyat.com memandang bahwa demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan kebebasan berbicara, tetapi juga kedewasaan dalam menggunakan kebebasan itu. Tanpa adab, kebebasan berubah menjadi anarki. Tanpa nalar, perdebatan berubah menjadi permusuhan.
Karena itu, ada beberapa hal yang perlu ditegaskan kembali:
Gunakan Akal Sehat Sebelum Bersuara
Tidak semua yang kita lihat dan dengar itu benar. Saring sebelum sharing. Pikirkan sebelum menulis.
Jaga Adab dalam Berpendapat
Berbeda adalah hal yang wajar. Namun menghina, merendahkan, dan memecah belah bukanlah budaya bangsa.
Hindari Fanatisme Buta
Dukungan terhadap figur publik harus tetap disertai sikap kritis. Tidak ada manusia yang selalu benar.
Berani Benar, Tetap Santun
Menyampaikan kebenaran tidak harus dengan kemarahan. Kata yang baik lebih kuat daripada teriakan.
Hidupkan Kembali Nilai Rukun
Persatuan adalah fondasi bangsa. Perbedaan pilihan tidak boleh merusak kebersamaan.
Saatnya Waras di Tengah Kebisingan
Pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak orang yang waras—yang mampu berpikir jernih di tengah hiruk pikuk, yang tetap menjaga adab di tengah perbedaan.
Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Kita boleh bersuara lantang, tetapi jangan kehilangan akal sehat.
Jika nalar terus dikalahkan oleh emosi, dan adab terus dikorbankan oleh kepentingan, maka yang tersisa bukan lagi demokrasi—melainkan sekadar keramaian tanpa arah.
Sudah saatnya kita kembali menjadi manusia yang berpikir sebelum berbicara.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan tajuk rencana/redaksi yang bertujuan sebagai edukasi publik. Seluruh isi mencerminkan pandangan umum demi mendorong kedewasaan berdemokrasi, bukan ditujukan untuk menyudutkan individu, kelompok, atau pihak tertentu. Pembaca diharapkan menyikapi isi tulisan ini secara bijak dan proporsional.



