Cerpen Kubur yang Bertanya karya Ismilianto menghadirkan renungan mendalam tentang kematian, penyesalan, dan kesempatan yang sering diabaikan semasa hidup.
Melalui simbol kubur yang “bertanya”, cerita ini mengingatkan bahwa ibadah bukanlah beban yang bisa ditunda, melainkan perisai yang melindungi hingga setelah kematian.
Cerpen: oleh Ismilianto
Ia wafat di bulan Ramadhan. Orang-orang berbisik, “Beruntung… waktunya indah.”
Tanah diratakan. Doa dipanjatkan. Langkah-langkah menjauh satu per satu. Sunyi menjatuhkan dirinya ke dalam kesadaran yang telanjang.
Lalu kubur bertanya— bukan dengan suara, melainkan dengan himpitan: “Di mana puasamu?” Ia ingin menjawab. Namun ingatan berlari lebih cepat.
Ramadhan pernah datang mengetuk. Ia yang membuka, lalu menutup kembali.
Ia meninggalkan puasa bukan karena sakit, bukan karena uzur, melainkan karena merasa kuat dan terlalu percaya pada esok.
“Allah Maha Pengampun,” kalimat itu dulu ringan di lidah. Kini ia menggantung di dadanya— tanpa penolong.
Kubur menyempit. Bukan karena tanah, melainkan karena penyesalan yang tumbuh subur.
Ia ingin haus, agar jujur seperti orang berpuasa. Ia ingin lapar, agar tahu rasanya bergantung pada Allah.
Namun kubur tak mengenal sahur. Tak ada magrib. Tak ada Ramadhan pengganti. Tak ada nanti.
Hanya satu kalimat yang berulang tanpa jeda: “Aku mampu menahan lapar, namun aku memilih menuruti nafsu.”
Allah telah memperingatkan: Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan hanya pada hari Kiamatlah balasan disempurnakan. (QS. Ali ‘Imran: 185)
Dan Rasulullah SAW bersabda singkat, namun cukup untuk melindungi hidup dan mati:
Puasa adalah perisai. (HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai itu dulu ia tinggalkan. Kini di dalam kubur, ia mengerti satu hal yang dahulu terasa sepele: Puasa bukan menyiksa hidup, tetapi menyelamatkan setelah mati.



