Ketika Gunung Itu Tak Lagi Berat
Aku terbangun… bukan oleh suara adzan, bukan pula oleh cahaya pagi.
Yang membangunkanku adalah penyesalan yang menyesak dada. Di hadapanku terbentang padang luas tak bertepi. Langitnya kelabu. Udara sunyi, seolah menahan napas.
Lalu aku melihatnya…gunung-gunung amal. Shalat, sedekah, puasa, dakwah, air mata di masjid, catatan yang dulu kubanggakan. Aku tersenyum lega.
“Ini bekalku pulang,” bisik hatiku.
Namun tiba-tiba… angin datang. Bukan angin biasa. Ia meniup perlahan, lalu gunung-gunung itu… hancur. Terurai. Beterbangan. Menjadi debu.
Aku berteriak, “Ya Allah… itu amalanku!”
Tak ada yang tersisa. Kosong. Ringan. Seperti aku datang ke dunia tanpa apa-apa. Lalu terngiang suara yang tak kulihat wujudnya:
“Dan Kami hadapkan segala amal yang telah mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)
Aku tersungkur. Air mataku jatuh, tapi terasa terlambat. Barulah aku ingat… shalatku dulu sering tergesa, hatiku sibuk menilai orang lain.
Sedekahku pernah kuberitakan, agar dipuji, agar disebut dermawan. Lisan ini rajin berdakwah, namun mudah menyakiti, mudah merendahkan, mudah merasa paling benar.
Aku ingat betul… aku tak pernah meninggalkan shalat, tapi aku sering meninggalkan keikhlasan.
Lalu datang bayangan wajah Rasulullah SAW, bukan untuk menghakimi, melainkan membuatku semakin malu.
Beliau pernah bersabda: “Akan datang pada hari kiamat suatu kaum dengan amalan seperti gunung Tihamah, namun Allah menjadikannya debu yang beterbangan.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?”
Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang jika sendirian, mereka berani melanggar larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah)
Aku gemetar. Aku tahu… aku pernah seperti itu. Di depan manusia aku terlihat baik. Di depan Allah… aku sering lalai.
Saat itu aku ingin kembali. Ingin sujud satu kali saja dengan hati utuh. Ingin menahan lisanku satu hari saja. Ingin menolong tanpa ingin diketahui siapa pun. Namun waktu telah habis.
Aku pun teringat satu ayat yang dulu sering kubaca, namun jarang kurenungi:
“Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal shalih dan jangan mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)
Saat itulah aku mengerti…bukan banyaknya amal yang menyelamatkan, tetapi siapa yang kita cari dalam beramal itu.
Cerita ini bukan tentangku saja. Mungkin… ini tentang kita. Selagi napas masih di dada, selagi sujud masih bisa dilakukan, jangan biarkan amal kita seberat gunung…
Lalu kelak beterbangan sebagai debu. Semoga Allah menjaga amal kecil kita dengan keikhlasan yang paling besar.
Aamiin ya rabbal. Shalallahu’ala muhammad, shalallahu’alaihi wassalam.



