
Tajuk Rencana: Ketahanan Pangan Di Boyolali Aman, Zulkifli Hasan Datang ke Boyolali.
Oleh : Redaksisatu.id
Kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan ke Desa Candi, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, bukan sekadar agenda seremonial.
Zulkifli Hasan menyampaikan pesan politik negara, bahwa ketahanan pangan di Boyolali diklaim aman, harga sembako disebut terkendali, dan rakyat diminta untuk tenang.
Di tengah tekanan ekonomi yang terus dirasakan masyarakat bawah—dari harga beras, minyak goreng, hingga kebutuhan dapur harian—kehadiran pejabat negara ke desa membawa makna simbolik yang kuat.
Negara itu ingin terlihat hadir, turun langsung, dan memastikan bahwa situasi ketahanan pangan masih dalam keadaan baik-baik saja dan terkendali.
Namun, tajuk rencana ini mengingatkan: antara klaim dan kenyataan di dapur rakyat, sering kali ada jarak yang perlu diuji.
Negara, Pangan, dan Politik Kepastian
Pangan bukan sekadar komoditas ekonomi. Ia adalah penentu soal hidup dan mati rakyat, sekaligus menjadi instrumen politik yang kuat dan paling sensitif.
Sejarah telah menunjukkan, ketika ada gejolak pangan selalu berujung pada gejolak sosial. Maka wajar jika negara berkepentingan menjaga narasi stabilitas.
Pernyataan Menko Pangan bahwa stok pangan di Boyolali aman dan harga sembako stabil menjelang Natal dan Tahun Baru 2026 adalah pernyataan resmi yang sangat penting.
Kehadiran Zulkifli Hasan telah menunjukkan bahwa negara sudah bekerja keras, memantau, dan menyiapkan intervensi seperti mengadakan pasar murah.Tetapi yang menjadi catatan bahwa dalam tradisi demokrasi, klaim negara bukanlah akhir cerita, Ia justru awal dari pengawasan publik.
Boyolali sebagai Simbol
Boyolali bukan sekadar titik kunjungan. Boyolali adalah daerah agraris, lumbung pangan, dan simbol keterhubungan antara petani, pasar, dan meja makan rakyat.
Ketika negara datang ke Boyolali, pesan yang ingin disampaikan adalah: jika di lumbungnya saja aman, maka seharusnya di tempat lainnya pun tentunya juga aman.
Namun realitas lapangan sering lebih kompleks. Petani berbicara tentang biaya produksi, dan pupuk, serta harga jual, Pedagang kecil bicara soal daya beli, dan Ibu rumah tangga bicara soal harga yang katanya stabil, tapi terasa naik sedikit demi sedikit.
Sementara Pemerintah menyampaikan ucapan terima kasih kepada TNI dan Polri atas pengamanan Natal dan Tahun Baru di Boyolali sukses aman terkendali.
Ini penting, karena stabilitas keamanan memang menopang stabilitas ekonomi, namun stabilitas pangan tidak hanya dijaga dengan pengamanan, melainkan harus dengan kejujuran data, konsistensi kebijakan, dan keberpihakan yang nyata kepada rakyat.
Pasar murah tidak boleh sekadar menjadi agenda kunjungan. Ia harus berkelanjutan. Stok aman tidak cukup di gudang, tetapi harus terjangkau di pasar.
Harga stabil tidak cukup di atas kertas, tetapi harus terasa di kantong rakyat.
Warga Boyolali, memandang kunjungan ini sebagai langkah positif negara untuk hadir di tengah rakyat, namun sekaligus mengingatkan bahwa legitimasi negara tidak dibangun dari pernyataan saja, melainkan dari bukti yang dirasakan langsung.
Rakyat tidak muluk-muluk menuntut janji yang besar. Mereka hanya ingin harga yang masuk akal, stok pangan yang nyata, dan kebijakan yang konsisten.
Jika ketahanan pangan benar-benar aman, maka ia akan terbukti tanpa perlu banyak penegasan, Negara boleh berkata stok pangan aman, dan Rakyat juga berhak menguji.



