Tamat Kuliah Jadi Buruh Berpakaian Rapi, Ada yang Salah dengan Pendidikan Tinggi Kita
Oleh: Ismilianto, MP.d.
Fenomena lulusan perguruan tinggi yang berakhir sebagai pekerja teknis semakin sulit dibantah.
Di balik gelar akademik dan pakaian kerja yang rapi, banyak sarjana hari ini hanya menjadi bagian kecil dari sistem besar yang tidak mereka kendalikan.
Mereka bekerja, patuh, dan disiplin, tetapi tidak memiliki ruang menentukan arah.
Dokter menjadi buruh layanan kesehatan, dibebani target tanpa kuasa merancang sistem yang lebih manusiawi.
Insinyur sibuk mengawasi mesin, tetapi tidak dilibatkan dalam menentukan arah industrialisasi bangsa.
Akuntan fokus menutup laporan, namun tidak berperan dalam menentukan ke mana uang negara seharusnya mengalir.
Ekonom pun tenggelam dalam angka, tanpa kuasa mengendalikan kebijakan ekonomi.
Mereka bukan lulusan gagal. Mereka adalah orang-orang cerdas, terlatih, dan berkompeten.
Namun ilmu yang mahal dan panjang itu berhenti sebagai alat kerja, bukan alat kendali.
Masalahnya terletak pada arah pendidikan tinggi yang terlalu menekankan konsep “siap kerja”.
Kampus berlomba mencetak lulusan yang cepat terserap industri, tetapi lupa menyiapkan mereka menjadi pemimpin sistem.
Mahasiswa diajarkan patuh pada SOP, namun jarang dilatih berpikir strategis. Mereka mahir menjalankan perintah, tetapi tidak dibiasakan menyusun arah.
Setelah wisuda, para sarjana masuk ke sistem yang sudah jadi. Mereka hidup untuk membesarkan sistem tersebut, bukan untuk mengoreksinya.
Ilmu berhenti di meja kerja, tidak pernah naik ke meja pengambil keputusan.
Ironisnya, lingkungan kampus sering kali tidak ramah terhadap sikap kritis. Mahasiswa yang banyak bertanya dianggap merepotkan.
Lulusan yang menggugat sistem dicap tidak siap menghadapi dunia kerja. Padahal, bangsa ini tidak kekurangan pekerja patuh.
Yang justru langka adalah pengendali sistem yang berani, kritis, dan berilmu.
Kewirausahaan akhirnya hanya menjadi mata kuliah formal, bukan karakter pendidikan. Riset sekadar syarat kelulusan, bukan fondasi kemandirian bangsa.
Kampus lebih bangga pada angka serapan kerja, dibandingkan jumlah lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja dan sistem baru.
Akibatnya, lahirlah generasi pintar yang rapi, patuh, dan lelah. Mereka bekerja keras membesarkan sistem milik orang lain, sementara bangsanya sendiri kehilangan kendali atas masa depan.
Perlu ditegaskan, ini bukan kesalahan lulusan. Ini adalah kegagalan arah pendidikan tinggi.
Selama perguruan tinggi hanya mencetak pekerja teknis, bukan pemikir dan pengendali, maka sarjana—sehebat apa pun—akan terus berakhir sebagai buruh berpakaian rapi.
(Ismilianto, M.Pd., mantan guru SMA dan pemerhati pendidikan. Aktif menulis opini tentang pendidikan karakter, peran guru, dan kebijakan pendidikan di Indonesia)



