Opini Publik
Jakarta | Redaksisatu.id – Ibukota Jakarta kian hari semakin padat. Volume kendaraan terus meningkat, mulai dari roda dua, roda empat, hingga kendaraan berat roda enam dan seterusnya.
Seluruhnya bergerak dengan bahan bakar berbasis bensin, solar, maupun gas. Di balik hiruk-pikuk mobilitas tersebut, satu persoalan besar terus menghantui: polusi udara.
Tak hanya dari kendaraan pribadi dan angkutan umum, sumber pencemar udara juga datang dari sektor industri, home industry, hingga aktivitas nelayan yang mengandalkan mesin genset dan motor penggerak.
Mesin-mesin itu bekerja tanpa henti, mengonsumsi bahan bakar fosil, dan meninggalkan jejak gas buang yang mencemari udara.

Persoalan ini seolah menjadi lingkaran tak berujung. Polusi meningkat, konsumsi bahan bakar membengkak, sementara solusi konkret terasa berjalan di tempat.
Namun di balik kepadatan Jakarta, secercah harapan justru muncul dari Jawa Tengah. Wartawan Redaksisatu.id menemukan sebuah temuan yang mengejutkan.
Dua putra bangsa, yang memilih disebut dengan inisial J & F, mengaku telah mengembangkan sebuah inovasi bahan pembakar mesin.
“Yang diklaim mampu menjawab berbagai persoalan klasik: polusi, pemborosan bahan bakar, hingga kinerja mesin yang tidak optimal.
“Kami berangkat dari keluhan masyarakat,” ujar J & F. “Selama ini persoalan polusi dan boros bahan bakar selalu dibahas, tapi solusinya tidak benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat.”
Menurut mereka, inovasi yang dikembangkan bukan sekadar aditif biasa. Bahan pembakar ini diklaim mampu meringankan gas buang, membersihkan korosi dan kerak mesin, serta meningkatkan performa kerja mesin secara stabil dan teratur.
Bahkan, produk tersebut disebut dapat membantu menjaga sirkulasi oli agar bekerja lebih optimal.
Yang paling menarik perhatian, temuan ini diklaim mampu menghemat konsumsi bahan bakar hingga 20–25 persen, sekaligus mengurangi asap hitam (ngebul) pada knalpot, sehingga gas buang menjadi jauh lebih ramah lingkungan.
“Tarikan gas menjadi lebih ringan, pembakaran lebih sempurna, karburator tetap bersih, dan emisi menurun signifikan,” jelas mereka berdua.
Pengembangan inovasi ini bukan hal instan. J & F menyebut riset telah dimulai sejak tahun 2018, dan pada 2019.
Produk tersebut telah melalui uji emisi, termasuk pengujian resmi oleh Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat di Bandung, serta sejumlah pengujian lain yang diklaim memenuhi standar di beberapa negara.
Bila klaim ini terbukti dan dikembangkan secara luas, temuan tersebut dinilai berpotensi menjadi solusi alternatif kebersihan udara Jakarta, sekaligus membantu masyarakat, pelaku industri kecil, hingga nelayan dalam menekan biaya operasional.
Di tengah krisis udara bersih yang kian mengkhawatirkan, kehadiran inovasi karya anak bangsa ini menjadi pengingat bahwa solusi tidak selalu datang dari luar negeri. Kadang, jawabannya justru lahir dari kepekaan terhadap keluhan rakyat sendiri.
Apakah temuan ini akan mendapat dukungan serius dari pemerintah dan dunia industri? Waktu yang akan menjawab.
Namun satu hal pasti, harapan untuk udara Jakarta yang lebih bersih kini memiliki cerita baru. (**SH**).



