spot_img

Demak: Walisongo Penyebar Islam Nusantara Jadi Panutan

Sejarah Islam Demak Cerita Budaya Jawa Tengah : Saidi Hartono

Demak, Redaksi Satu | Mengenang sejarah penyebar Islam Nusantara, Walisongo Sunan Kalijaga.

Ia bukan hanya seorang wali, melainkan arsitek peradaban yang meletakkan fondasi Islam Nusantara melalui jalan budaya, kesabaran, dan kearifan lokal.

Sunan Kalijaga lahir dengan nama Raden Sahid, putra Adipati Tuban, pada paruh akhir abad ke-15.

Masa mudanya diwarnai kegelisahan sosial

Ia menyaksikan ketimpangan, kemiskinan, dan ketidakadilan di tengah masyarakat Jawa kala itu.

Dari kegelisahan itulah, perjalanan spiritual Raden Sahid dimulai-sebuah perjalanan yang kelak mengubah arah sejarah Islam di Jawa.

Pertemuan Raden Sahid dengan Sunan Bonang menjadi titik balik hidupnya.

BACA JUGA  Raja Keraton Sinuhun Paku Buwono XIII Tutup Usia

Dari sosok guru inilah ia mendalami ajaran Islam, menempuh laku tirakat panjang, hingga akhirnya dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Nama yang mencerminkan kesabaran dan ketekunan dalam “menjaga aliran” dakwah Islam agar tetap mengalir tanpa merusak sendi-sendi budaya masyarakat.

Sebagai bagian dari Walisongo, Sunan Kalijaga dikenal memiliki metode dakwah paling khas. Ia tidak menentang budaya lokal, melainkan merangkulnya.

Wayang kulit dijadikan media dakwah, tembang Jawa disisipkan pesan tauhid, dan tradisi adat diberi makna baru yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Pendekatan ini terbukti efektif. Islam tidak hadir sebagai ancaman, melainkan sebagai jalan hidup baru yang akrab dengan keseharian masyarakat.

Sunan Kalijaga memahami bahwa perubahan peradaban tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan melalui proses panjang dan dialog budaya.

BACA JUGA  Palestina Tegaskan Kepercayaan terhadap Indonesia dalam Mendukung Kemerdekaan Palestina

Peran Sunan Kalijaga juga tidak terpisahkan dari lahirnya Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Ia menjadi penasehat spiritual para sultan Demak, dan turut berperan dalam pembangunan Masjid Agung Demak—simbol peradaban Islam awal di Nusantara.

Konon, salah satu saka guru masjid tersebut merupakan hasil karya Sunan Kalijaga, yang melambangkan persatuan dalam keberagaman.

Setelah Wafat Berbagai Kisah Kewaliannya Jadi Panutan  

Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, Demak, sebuah kawasan yang hingga kini menjadi pusat ziarah nasional.

Setiap tahun, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang untuk mendoakan, mengenang, dan menyerap nilai-nilai keteladanan sang wali.

Ziarah ini bukan sekadar ritual spiritual, melainkan napak tilas sejarah panjang Islam Nusantara.

BACA JUGA  Pembangunan IKN Baru Tetap On The Track

Bagi para sejarawan, Sunan Kalijaga adalah simbol Islam yang tumbuh secara damai.

Ia membuktikan bahwa dakwah tidak harus memutus akar budaya, melainkan bisa tumbuh subur dengan menghormatinya.

Warisan inilah yang membentuk karakter Islam Indonesia-moderat, inklusif, dan berwajah budaya.

Di tengah tantangan zaman modern, ajaran Sunan Kalijaga kembali relevan.

Keteladanan, toleransi, dan kebijaksanaan yang ia wariskan menjadi pengingat.

Bahwa peradaban besar tidak dibangun dengan kekerasan, melainkan dengan pemahaman dan kebijaksanaan.

BACA JUGA  Asintel Danlantamal XII Pimpin Apel Gabungan Jelang Idul Fitri 1445 H

Sunan Kalijaga telah lama wafat, namun jejaknya tetap hidup mengalir, dalam budaya, tradisi, dan cara beragama masyarakat Nusantara hingga hari ini. (**Penulis : Saidi Hartono**).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

spot_img