
Redaksisatu.id – Di ruang publik hari ini—baik dalam perdebatan politik, konflik sosial, bahkan percakapan sehari-hari—kita semakin sering menjumpai sosok yang membingungkan, suka ngelantur
Seperti seseorang yang berinisial BY (42) warga asal Boyolali, ucapannya ngelantur berputar-putar, bicaranya ceplas ceplos meloncat dari satu topik ke topik lain, penuh keluhan dan klaim sebagai korban.
Namun anehnya, meski ngelantur tetap paham konteks, mengerti lawan bicara, bahkan terlihat cerdas dan lihai berbicara bisa membaca situasi. BY saat di temui media justru omongannya blak-blakan, banyak ngelanturnya.
Sebagian orang yang merasa punya urusan dengan BY bisa mendadak emosi dan buru-buru menyimpulkan: “Ini orang sudah tidak waras.” Sedangkan Sebagian lagi menilainya orang tersebut sekadar playing victim.
Pertanyaannya: benarkah sesederhana itu? “Sudah Gila, atau pura-pura gila”, ataukah sedang action tidak jujur Secara emosional.
“Pikirannya ngelantur dimana kondisi saat pikiran tiba-tiba melayang ke hal-hal tidak terduga, bisa berupa pikiran mengganggu (intrusive thoughts), melamun berlebihan itulah gaya BY, saat berinteraksi dengan orang yang tidak sejalan.” Kata orang yang punya urusan dengan BY.
Lanjut keterangannya BY itu overthinking/daydreaming, atau gejala kebingungan (brain fog), yang umumnya normal tapi bisa jadi tanda masalah jika sering dan mengganggu, seperti gangguan kecemasan, depresi, hingga kondisi medis lain.
Ini bisa berupa gambaran acak, kekhawatiran berlebihan, atau kesulitan fokus yang bisa jadi gejala sementara atau kondisi medis serius seperti delirium, psikosis, atau masalah otak. Jelas seseorang yang punya masalah dengan BY.
Perlu ditegaskan sejak awal: pola seperti ini bukan ciri gangguan jiwa berat. Orang-orang dengan perilaku tersebut umumnya tidak kehilangan realitas.
Ada juga yang mengatakan BY tidak berhalusinasi, tidak stres, tidak terputus dari dunia nyata, dan tidak kehilangan kemampuan berpikir strategis.
Sementara menurut sumber terpercaya, Yang terjadi bukan kerusakan akal waras, melainkan ketidakstabilan emosi yang dibungkus dengan kecerdasannya.
Ia tahu apa yang sedang dibicarakan, tahu kapan harus menyerang atau bertahan, namun emosinya terlalu dominan sehingga narasinya menjadi kacau.
Siapa yang punya urusan dengan BY, bila tidak sabar tentunya cepat menghakimi bahwa BY tidak waras, tetapi ada juga yang tidak mudah diperdaya oleh narasi BY yang berlagak playing victim macak korban. Di sinilah akal sehat publik diuji.



