Redaksusatu.id – Di depan mata, peristiwa itu jelas membahayakan orang banyak.
Logika sederhana rakyat kecil pun bisa menilai: ini salah, ini berbahaya, dan ini harus dihentikan.
Namun anehnya, tak ada yang berani melapor
Bukan karena tidak peduli.
Bukan karena tidak tahu.
Tetapi karena takut.
Takut jika hukum justru berbalik arah.
Takut jika terlihat sebagai pelapor berubah menjadi terlapor.
Takut jika yang benar justru diseret sebagai pihak yang dianggap mencemarkan nama baik.
Akhirnya, rakyat memilih satu sikap yang paling aman: “mengelus dada.”
Hukum yang Tidak Sederhana Secara teori, hukum dibuat untuk melindungi masyarakat. Hukum adalah tameng, bukan ancaman.
Tetapi dalam praktik, hukum sering kali terasa rumit, berlapis, penuh tafsir, dan tidak selalu berpihak pada rasa keadilan yang sederhana.
Bagi rakyat kecil, hukum bukan sekadar pasal dan ayat. Hukum adalah biaya, waktu, tenaga, dan risiko sosial.
Proses hukum bisa panjang. Bisa melelahkan. Bahkan bisa menguras ekonomi.
Sementara itu, pihak yang memiliki kuasa, jaringan, dan sumber daya sering terlihat lebih siap menghadapi proses hukum. Di titik inilah ketimpangan terasa.
Ketika Rasa Takut Mengalahkan Kebenaran
Masalah terbesar bukan hanya pada satu peristiwa. Masalahnya adalah ketika masyarakat mulai kehilangan keberanian untuk melapor.
Jika orang melihat bahaya tapi memilih diam, maka yang runtuh bukan hanya keadilan—tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem hukum.
Masyarakat akhirnya berpikir: “Lebih baik diam daripada repot.” “Lebih aman tidak ikut campur.”
“Yang penting saya tidak terseret.” Sikap ini mungkin manusiawi. Tapi jika dibiarkan, ini menjadi racun sosial.
Hukum Harus Menghadirkan Rasa Aman, Bukan Rasa Cemas
Hukum yang sehat adalah hukum yang terlihat nyaman dan membuat warga merasa terlindungi saat melapor, bukan merasa terancam saat melapor.
Perlindungan terhadap pelapor (whistleblower), kepastian proses, transparansi penanganan perkara, dan sikap aparat yang profesional adalah kunci membangun kembali kepercayaan.
Tanpa itu, hukum akan selalu terlihat rumit di mata rakyat kecil—bukan karena mereka bodoh, tetapi karena pengalaman mengajarkan bahwa kebenaran saja belum tentu cukup.
Mengelus Dada atau Bersama-sama Bersikap? Mungkin benar, sendirian kita terlihat takut. Tetapi bersama, suara menjadi lebih kuat.
Yang dibutuhkan bukan terlihat keberanian nekat, tetapi keberanian kolektif. Dokumentasi yang rapi. Jalur resmi yang jelas. Pendekatan yang objektif tanpa fitnah.
Karena jika semua warga masyarakat terlihat dan memilih diam, tidak empati, maka ruang publik akan diisi oleh mereka-mereka yang semakin berani melanggar.
Dan rakyat hanya akan terus mengelus dada. Salam akal waras. Merdeka…!!!



