
Indramayu, Redaksi satu – Pagi itu, Sungai Cimanuk di wilayah Blok Bangkalowa RT 10 RW 03, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, menyuguhkan pemandangan yang membuat rombongan tamu hajatan asal Boyolali terdiam.
Alih-alih panorama sungai yang bersih dan menenangkan, yang terlihat justru bantaran sungai kumuh dengan aktivitas warga yang tetap berjalan seperti biasa: mandi, mencuci pakaian, hingga buang air besar di ruang terbuka. Sungai yang airnya keruh dan berbau itu tetap menjadi tumpuan hidup.
“Awalnya kami kira cuma lewat, tapi kok banyak orang mandi dan nyuci di sungai yang kelihatannya kotor,” ujar salah satu tamu yang enggan disebut namanya, Minggu pagi.
Yang lebih mengejutkan, air Sungai Cimanuk yang kumuh itu disedot menggunakan pipa paralon dan dialirkan langsung ke rumah-rumah warga untuk kebutuhan sehari-hari—mulai dari mencuci hingga aktivitas rumah tangga lainnya.
Warga Bertahan di Tengah Keterbatasan
Menurut keterangan warga setempat, Sarpin (61), kondisi ini bukan hal baru. Sungai sudah lama menjadi satu-satunya pilihan bagi sebagian warga, terutama mereka yang tidak memiliki akses air bersih layak.
“Kalau mau gimana lagi, Mas. Air PDAM nggak masuk, sumur juga susah. Dari dulu ya di sungai ini,” kata Sarpin sambil menunjuk aliran Cimanuk yang airnya kumuh kecokelatan.
Bagi warga Bangkalowa, sungai bukan sekadar aliran air, melainkan ruang hidup, meski harus berdampingan dengan risiko kesehatan dan sanitasi.
Tontonan Biasa, Masalah Luar Biasa
Aktivitas mandi dan buang air besar di sungai berlangsung terang-terangan, terutama pada pagi hari. Bagi warga lokal, itu pemandangan biasa. Namun bagi tamu dari luar daerah, kondisi tersebut menghadirkan tamparan realitas tentang kesenjangan sanitasi.
Ironisnya, Sungai Cimanuk yang memiliki sejarah panjang sebagai sumber kehidupan dan pengairan pertanian, kini menjadi saksi minimnya perhatian terhadap sanitasi dasar di wilayah bantaran.
Cermin Masalah Sanitasi Pedesaan
Fenomena ini bukan sekadar soal kebiasaan warga, tetapi mencerminkan persoalan yang lebih besar: ketiadaan fasilitas sanitasi layak, akses air bersih yang terbatas, serta pembiaran bertahun-tahun.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat upaya serius dari pihak terkait untuk menyediakan solusi konkret, seperti MCK umum yang layak atau jaringan air bersih bagi warga bantaran Sungai Cimanuk di Bangkalowa.
Pemandangan pagi yang mengusik nurani ini seolah menjadi pengingat: di balik hiruk-pikuk pembangunan, masih ada warga yang bertahan hidup dengan air kumuh, bukan karena pilihan, melainkan karena keterpaksaan.(Reporter:MSar)



