Anggaran Kemiskinan Disinyalir Tersedot Kegiatan Rapat Hingga Studi Banding

Anggaran pengentasan kemiskinan yang tersebar di kementerian/lembaga (KL) disinyalir banyak tersedot untuk kegiatan rapat hingga studi banding.

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, melihat perlunya skema yang rasional agar tidak banyak anggaran yang digunakan untuk kegiatan tidak semestinya.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
kemiskinan
LaNyalla: Soroti Anggaran Kemiskinan di Kementerian

Dia meminta agar upaya pengentasan kemiskinan berfokus pada pemberdayaan ekonomi keluarga dan pembiayaan usaha yang dapat diakses oleh penerima manfaat.

BACA JUGA  LaNyalla Dorong Pelayanan Publik Dengan Digitalisasi

“Skema pengentasan kemiskinan harus rasional. Treatment atau perlakuannya dibedakan antara masyarakat yang bisa diberdayakan dan tidak,” kata LaNyalla yang sedang kunjungan dapil ke Jatim, Senin (30/1/2023).

LaNyalla mencontohkan untuk masyarakat yang mempunyai keterampilan dan berpotensi diberdayakan, alangkah baiknya jika mereka diberikan bantuan modal yang berkisar Rp10 juta hingga Rp20 juta.

Uang sebesar itu bisa digunakan untuk membuka usaha atau melakukan aktivitas produktif untuk memenuhi kebutuhan.

BACA JUGA  Polda Kalbar Tingkatkan Kemampuan K9 Deteksi Narkotika

“Kemudian untuk masyarakat yang sulit diberdayakan secara ekonomi, mereka inilah yang diberi dana simultan atau dana BLT,” tutur Mantan Ketum Kadin Jatim ini.

LaNyalla juga meminta kementerian, atau lembaga membuka ke publik program pengentasan kemiskinan yang dilakukan.

Supaya masyarakat luas bisa melihat sejauh mana anggaran tersebut terserap dan tepat sasaran.

BACA JUGA  Polda Kalbar gelar Apel Pengamanan Malam Takbiran Idul Fitri 1445 H

“Pemerintah harus jujur menyampaikan detail informasi anggaran pengentasan kemiskinan. Bukan jumlah totalnya, tetapi terperinci,” kata dia.

Ditambahkan LaNyalla, fenomena anggaran triliunan rupiah habis untuk rapat, sosialisasi atau studi banding merupakan persoalan klasik. LaNyalla meminta kepala daerah mencermati hal itu.

“Di sini dibutuhkan kepekaan para kepala daerah, supaya anggarannya betul-betul menyasar masyarakat miskin dan kelompok-kelompok rentan,” tukasnya.(*)

BACA JUGA  Dibalik Efisiensi Anggaran, Proyek Rp13,2 Miliar Jl Serdam Diduga Mark Up

Editor: Khairul Ramadan

spot_img