Mungkin Anda pernah mendengar atau bahkan menyaksikan sendiri seseorang yang terlihat sudah tidak berdaya atau dalam kondisi kritis, tiba-tiba tampak sehat dan bersikap seakan-akan tidak pernah sakit, misalnya bisa berbicara dengan lancar atau bahkan bergerak.

 

Anda atau kerabat terdekat mungkin berpikir ini merupakan keajaiban dan berharap bahwa orang tersebut akan sembuh dan baik-baik saja. Namun, beberapa saat kemudian yang terjadi malah sebaliknya, ia justru pergi untuk selamanya. Fenomena inilah yang disebut terminal lucidity.

Istilah terminal lucidity diperkenalkan oleh seorang peneliti dan ahli biologi asal Jerman bernama Michael Nahm. Sesuai namanya, lucidity diartikan sebagai “kejernihan” dan terminal mengacu pada situasi sesaat sebelum kematian.

Jadi, terminal lucidity dimaknai sebagai suatu fenomena kembalinya “kejernihan” pikiran seseorang secara mendadak menjelang ajalnya. Fenomena ini masih menjadi perdebatan di antara para ahli.

Banyak orang berpendapat bahwa terminal lucidity merupakan suatu anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta dan bisa dijadikan sebagai kesempatan bagi orang terdekat agar dapat menghabiskan waktu dengan orang yang dicintainya untuk terakhir kali.

Hingga saat ini, sebenarnya belum ada penjelasan yang logis mengenai terminal lucidity. Namun, fenomena ini nyatanya memang bisa saja terjadi pada beberapa pasien yang telah lama menderita karena suatu penyakit.

Salah satu penelitian mengungkapkan bahwa terminal lucidity bisa berlangsung beberapa menit hingga berhari-hari. Meski situasi ini berlangsung hanya beberapa menit, pasien akan tetap mengatakan sesuatu yang bermakna dan bisa dimengerti dengan baik.

BACA JUGA  Perubahan Perilaku Bawa Konsekuensi Kesehatan

Terminal lucidity paling banyak dialami oleh pasien yang menderita gangguan otak atau sistem saraf dan gangguan kejiwaan dalam waktu lama atau cukup parah hingga tidak bisa mengenali orang, berbicara jelas, maupun beraktivitas secara normal.

Beberapa penyakit tersebut meliputi, Abses otak, Tumor otak, Stroke, Meningitis, Demensia, Penyakit Alzheimer, Skizofrenia

Tentunya, ada banyak pertanyaan seputar fenomena terminal lucidity. Mengapa dan bagaimana fenomena ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin otak seseorang yang rusak karena suatu penyakit bisa berfungsi kembali sesaat sebelum mendekati kematian? Mengapa beberapa pasien bisa mengalaminya, tetapi ada juga yang tidak?

Hingga saat ini, terminal lucidity masih dipelajari lebih mendalam oleh para ahli. Hal yang pasti bahwa tidak semua pasien yang menderita gangguan otak atau kejiwaan parah akan mengalami terminal lucidity.

Ada beberapa contoh kasus pasien yang mengalami terminal lucidity. Salah satu pasien yang pernah diteliti adalah seorang wanita lanjut usia yang menderita penyakit Alzheimer selama 15 tahun dan sudah lama tidak mengingat siapa pun.

Namun, tiba-tiba pada suatu malam, ia memulai percakapan selayaknya orang normal bersama putrinya.

Ia berbicara banyak hal, mulai dari tentang ketakutannya akan kematian hingga kesulitan yang ia alami selama ini. Namun, setelah beberapa jam, ia meninggal dunia.

Selain itu, ada juga seorang pria lanjut usia yang mengalami demensia cukup parah selama beberapa bulan.

Ia tidak bisa mengenali orang di sekitarnya, mengalami paranoia, halusinasi, kebingungan, tidak mampu lagi berbicara dengan jelas, dan tidak bisa beraktivitas sendiri.

Selanjutnya, ia mendadak bisa bangun sendiri, banyak berbicara, tertawa, mengingat semua anggota keluarga dan temannya, bahkan sempat mengucapkan kata terima kasih. Namun, setelah beberapa menit, ia kemudian tertidur dan meninggal.

BACA JUGA  Cara Hilang Tato Permanen

Terminal lucidity menjadi misteri yang belum terpecahkan dan masih dipelajari secara mendalam oleh para ahli dengan harapan agar bisa memfasilitasi pengembangan terapi baru bagi dunia medis ke depannya.

Lebih dari itu, fenomena terminal lucidity sebenarnya bisa membantu keluarga yang ditinggalkan lebih bersiap menghadapi kepergian orang yang dicintainya.

Bersyukurlah bila suatu saat Anda menjadi salah satu orang beruntung yang menyaksikan dan berada di dekatnya pada saat-saat terakhir.

Anggaplah fenomena ini sebagai “hadiah terakhir” dan nikmatilah momen-momen spesial ini. Ketika benar-benar telah tiada, ikhlaskan dan doakan ia yang meninggal agar pergi dengan tenang dan damai.

Namun, bila Anda menyaksikan sendiri orang terdekat Anda mengalami terminal lucidity dan justru meninggalkan “bekas” atau “luka” mendalam hingga Anda sedih terus-menerus sampai tidak kuasa menjalani aktivitas sehari-hari, janganlah ragu untuk berkonsultasi ke psikolog atau psikiater.